RELATIVITAS itu suatu yang subjektif. Tergantung keadaan hati seseorang. Begitu pun dalam hal sabar.
Pernah merasakan mancing ikan? Untuk mereka yang hobi mancing, mereka rela berlama-lama menunggu umpannya dimakan ikan.
Uniknya, mereka sangat menikmati itu. Tidak ada keluhan. Tidak juga ada rasa bosan dan kapok. Bahkan, mereka rela membayar mahal untuk ‘permainan’ menunggu itu.
**
Pernah merasakan atau melihat orang yang hobi naik gunung? Mereka naik gunung dengan susah payah. Tak ada tangga escalator seperti di mal. Tak juga ada lift.
Bahkan, anak-anak tangga yang dilalui begitu alami: licin, terjal, dan hal tidak enak lainnya.
Mereka mengarungi perjalanan yang terus menanjak itu bukan dalam bilangan menit. Melainkan, dalam bilangan jam.
Biasanya, para pendaki memulai perjalanan di awal malam agar bisa tiba di atas gunung pada fajar atau Subuh. Hal itu agar mereka bisa mengejar matahari terbit. Jangankan tidur di saat malam itu, istirahat pun hanya sekadarnya.
Apa mereka akan mendapatkan sembako, hadiah mahal, atau umroh gratis saat di puncak sana? Tidak! Mereka hanya mendapatkan ‘kepuasan’.
**
Perhatikan mereka yang tergolong kaum ‘sufi’. Sufi di sini bukan aliran ruhiyah dalam Islam. Melainkan, singkatan dari suka film atau mereka yang hobi nonton film.
Mereka begitu khusyuk: diam, menyimak, bahkan tahan tidak makan dan minum selama berjam-jam. Untuk jenis film berseri seperti drakor atau drama korea bahkan bisa puluhan jam.
Apa nontonnya gratis? Tidak juga. Mereka bahkan rela membayar cukup mahal untuk sekadar duduk khusyuk yang membutuhkan waktu puluhan jam itu.
**
Itulah relativitas sabar. Tidak sedikit orang yang begitu sabar dalam memuaskan hobi atau kesukaan hati. Mereka tidak merasa capek. Tidak merasa bosan. Tidak pernah mengeluh. Dan, tidak pernah kapok.
Pertanyaannya, kenapa hal itu tidak terjadi dalam ibadah, dalam berjuang di jalan Allah? Jawabannya sangat sederhana: karena itu bukan yang mereka suka.
Cobalah belajar untuk menyukai apa yang Allah dan Rasul-Nya sukai. Bersabarlah dalam kesolehan sebagaimana mereka bersabar dalam ‘kepuasan’. [Mh]


