RASULULLAH dan para sahabat radhiyallahum ajma’in adalah para pemilik doa yang mustajab. Tapi, mereka juga harus kerja keras.
Orang-orang Mekah di masa Nabi berpenghasilan dengan dagang. Jarak lokasinya sangat jauh: di Yaman dan Suriah. Ratusan kilometer dari Mekah. Waktu perjalannya bisa berbulan-bulan.
Kalau musim dingin, mereka berdagang ke Yaman. Jika musim panas, mereka berdagang ke Suriah. Mereka menjual produk lokal ke pasar luar negeri. Dan pulang, membawa produk luar kedalam Mekah.
Ketika tinggal di Madinah, keadaan tidak lebih baik. Hal ini karena mereka diisolasi banyak pihak: jazirah Arab, kaum Yahudi, munafik, bahkan bangsa Romawi.
Hampir-hampir tak ada peluang untuk berdagang. Syukurnya, Allah menghalalkan harta rampasan perang atau ghanimah.
Namun begitu, mereka tidak menjadikan perang sebagai mata pencarian atau profesi. Melainkan untuk pertahanan wilayah dan dakwah Islam.
Perang itu biayanya mahal. Padahal, mereka waktu itu bukan orang-orang kaya. Tidak heran jika pada perang pertama: Perang Badar, ongkosnya dibiayai oleh para sahabat yang bisnisman. Di antaranya Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang merogoh ‘kocek’ sekitar 500 juta rupiah untuk operasional perang.
Parahnya di perang berikutnya: Uhud. Umat Islam justru mengalami pukulan berat. Jangankan ghanimah, sekitar 70-an sahabat mengalami syahid. Di antara mereka sahabat senior seperti Mus’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhum.
Kehidupan di Madinah pun terasa begitu sulit. Pernah satu bulan penuh, keluarga Nabi tidak masak apa pun. Istilah Sayyidah Aisyah: dapur keluarga Nabi tidak berasap sebulan penuh.
Ketika Perang Khandaq, alat-alat militer yang dipakai sangat seadanya. Salah satunya baju perang pemimpin kabilah Aus: Saad bin Muadz, sudah sangat kadaluarsa. Ia mengenakan baju besi milik ayahnya yang sudah usang. Ada bolong di sana-sini. Salah satunya di bawah lengan.
Dari situlah, anak panah musuh menelusup melalui celah itu. Anak panah itu tembus dari ketiak hingga punggung Saad. Ia tidak langsung syahid. Tapi, mengalami sakit pendarahan berhari-hari.
Begitulah kehidupan berlalu hingga seterusnya. Hingga peperangan terjadi antara umat Islam dengan kaum Yahudi di Khaibar pada tahun ke-7 Hijriah, sebuah wilayah di sebelah utara Madinah.
Bisa dibilang, Yahudi di sini tergolong komunitas yang paling kaya dari seluruh Madinah. Benteng pertahanannya saja ada 11 lapis. Bisnis perkebunannya terbesar di Madinah: kurma, anggur, dan lainnya. Produk itu langsung dijual ke utara, ke wilayah Syam atau wilayah yang dihuni orang-orang Romawi.
Nah, ketika sebelas lapis benteng Khaibar ditaklukkan selama berbulan-bulan, Rasulullah memberikan kebijakan untuk kaum Yahudi di sana. Mereka tidak dihukum fisik, tapi cukup dengan bagi hasil perkebunan mereka.
Saat itulah, umat Islam di Madinah baru bisa menikmati sarana hidup yang sewajarnya. Mereka baru bisa makan cukup. Tidak lagi mengganjal perut mereka dengan batu karena kempisnya perut mereka tanpa makanan.
Mereka semua orang-orang soleh yang doanya begitu mustajab. Tapi, mereka juga bekerja keras dan mengalami kesusahan hidup yang berat.
**
Doa itu ibadah. Allah subhanahu wata’ala berkehendak untuk mengabulkan atau menundanya. Boleh jadi, apa yang kita tidak suka adalah baik untuk kita, dan apa yang kita suka adalah buruk untuk kita. Allah Maha Tahu apa yang baik dan buruk untuk hamba-Nya.
Teruslah berdoa dan bekerja keras. Allah anugerahkan hamba-hamba-Nya dua hal: apa yang diusahakan dalam hidup ini dan pahala untuk kenikmatan di akhirat. [Mh]





