NABI shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati bahwa tidak akan berkumpul dalam hati seseorang: iman dan pelit, selamanya. (HR. Ahmad dan An-Nasai)
Pelit dalam bahasa Arab itu ada dua: bakhil dan syuh. Bakhil ada di tingkat bawah, sementara syuh di atasnya.
Bakhil bisa dikatakan pelit yang ‘defensif’. Yaitu, sifat alami manusia yang menyetop kebaikan dan kedermawanannya agar tidak rugi. Misalnya, orang enggan bersedekah, berinfak, berzakat, dan lainnya.
Ia berpikir, dengan menyetop sedekah, infak, dan zakat; maka hartanya tidak banyak berkurang. Karena menurutnya, pengeluaran untuk kebutuhan diri sendiri saja sudah pas-pasan.
Ia lupa bahwa harta yang dipunya itu pemberian dari Allah. Bukan semata-mata karena dia bekerja keras, bukan pula karena keberuntungannya.
Betapa banyak orang yang bekerja keras, duitnya sedikit. Begitu pun dengan keberuntungan, karena tak ada di dunia ini yang kebetulan atau keberuntungan alami. Melainkan karena Allah yang ngasih.
Allah ‘memaksa’ kita untuk sedekah, infak, dan zakat bukan untuk menyusahkan atau ngurangin duit kita. Sebaliknya, itulah pertanda kalau Allah ingin menambahkan.
Nah, di sinilah iman berbicara. Kalau tak ada iman, maka yang ada logika setan yang menyesatkan.
Jenis pelit yang kedua adalah syuh. Syuh ini pelit yang diiringi tamak atau serakah. Bisa dibilang, sifatnya ‘ofensif’.
Rumus sederhananya: orang yang pelit belum tentu serakah. Tapi, orang yang serakah sudah pasti pelit. Sifat ini sangat berbahaya, terutama untuk orang banyak: masyarakat bahkan negara.
Kebangkrutan sebuah negara bukan karena sumber kekayaan alamnya habis. Melainkan, karena para pemimpinnya serakah. Jangankan mau berkorban untuk orang banyak, yang orang banyak punya saja sangat ingin ia miliki dan rampas.
Orang melakukan korupsi itu bukan karena takut miskin, tapi karena dorongan sifat serakah.
Orang yang punya sifat syuh tidak akan mendapatkan kesuksesan. Terutama kesuksesan meraih bahagia di akhirat. Na’udzubillah.
Allah berfirman, “Siapa yang dijauhkan dari sifat syuh, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) [Mh]



