MIMPI ada yang biasa. Ada pula yang istimewa. Sebegitu istimewanya, tetap disuarakan orang hingga sekarang.
Namanya Abdullah bin Zaid Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat dari suku Khazraj Madinah yang senior. Sejak Islam tumbuh di Madinah, beliau sudah ikut berkiprah.
Abu Muhammad, begitulah panggilan beliau, lahir di sekitar 32 tahun sebelum hijrah. Putranya itu merupakan buah pernikahannya dengan Sa’adah binti Kulaib.
Abdullah bin Zaid mengikuti semua peperangan di masa Nabi. Mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya.
Ada peristiwa menarik yang beliau alami di tahun pertama hijriyah. Saat itu belum ada petunjuk bagaimana cara memanggil orang untuk menunaikan shalat berjamaah sekaligus penanda waktu shalat.
Ada yang mengusulkan dengan terompet, tapi itu ditolak yang lain karena mirip Yahudi. Ada juga dengan lonceng, itu juga ditolak karena mirip Nasrani. Dan lainnya.
Hingga, Abdullah bin Zaid bermimpi. Ia bertemu dengan seorang dengan jubah hijau. Dan mengajarkan bagaimana mengumandangkan azan. Persis seperti yang kita lakukan saat ini.
Mimpi itu pun disampaikan Abdullah ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Rasulullah langsung memerintahkan Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan azan persis seperti mimpi itu.
Sebegitu dekatnya Abdullah bin Zaid dengan Rasulullah hingga beliau menangis bertemu dengan Rasulullah. Dan hal itu lagi-lagi karena mimpi beliau yang luar biasa.
Abdullah bin Zaid memimpikan Rasulullah sudah wafat. Ketika waktu bergulir lama, ada kerinduan yang luar biasa ingin berjumpa Rasulullah. Tapi, bagaimana mungkin bisa berjumpa, kalau pun mereka di surga, tempat Rasulullah di posisi yang paling tinggi.
Hal itu diceritakan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah. Tak lama, turunlah firman Allah subhanahu wata’ala, Surah An-Nisa ayat 69.
“Siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin…”
Abdullah bin Zaid wafat di usia 64 tahun di masa Kekhalifahan Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Khalifah Usman sendiri yang mengimami shalat jenazahnya.
**
Ada di antara hamba-hamba Allah yang memiliki hubungan yang begitu dekat dengan-Nya. Jangan nilai dari fisik dan status sosialnya. Bahkan, tidak pula dari sisi keilmuannya.
Berusahalah untuk selalu dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Sebuah kedekatan yang tak terlihat, tak punya status, dan jarang tercatat dalam sejarah. [Mh]



