PARA SAHABAT radhiyallahum ajma’in sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan sekadar karena itu perintah Allah, tapi juga karena Nabi selalu ada untuk mereka.
Islam mengajarkan dua sisi amal: hablum minallah dan habulum minannas. Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan itu dengan begitu sempurna.
Ada seorang sahabat Nabi dari Arab Badui pedalaman. Ia miskin. Bajunya sangat sederhana. Ia berdagang minyak untuk wewangian di sekitaran Masjid Nabawi.
Tak ada orang yang tahu persis di mana rumahnya karena begitu jauhnya di wilayah pedalaman. Hampir tak ada pula orang yang menyapa, apalagi mengakrabkannya.
Tiba-tiba, ia merasakan ada seseorang yang menutup matanya dari arah belakang. “Siapa, ya? Hm, siapa sih?” ucapnya. Ia seperti merasa terhibur karena ada juga orang yang menganggapnya ada dan memperlakukannya begitu akrab.
Setelah ia menoleh ke belakang, di luar dugaannya, ternyata orang yang bercanda dengannya itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Eh, Rasulullah!” ucapnya seraya memeluk tubuh Rasulullah dengan begitu hangat.
Di sisi lain bangunan Masjid Nabawi, ada tenda besar tempat muhajirin yang fakir dan miskin. Mereka tak punya rumah. Begitu pun dengan makanan dan minuman. Mereka biasa disebut Ahlus Suffah.
Hampir seratus persen kehidupan mereka disuplai oleh Nabi. Jika dapur Nabi banyak makanan, mereka akan banyak makan. Tapi jika kosong, mereka pun tak dapat makanan.
Suatu hari, Nabi mendapat hadiah satu wadah susu dari seorang sahabat. Nabi langsung membawanya ke situ. Nabi memanggil Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang juga menetap di situ untuk mengabarkan kalau ada susu untuk mereka.
Mereka pun duduk berjajar rapi. Setiap orang disediakan gelas. Nabi bersama dengan Abu Hurairah mengisi setiap gelas itu dengan susu. Semua orang kebagian. Kecuali, Nabi dan Abu Hurairah sendiri. Tapi setelah ditiris-tiriskan wadah itu, ada sisa satu gelas. Dan Nabi pun membagi sisa susu itu untuk berdua dengan Abu Hurairah.
Tidak jarang juga, Nabi dikunjungi para istri dari sahabat. Umumnya mereka ingin menanyakan tentang hukum fikih perempuan. Tapi, banyak pula yang curhat tentang suami-suami mereka.
Nabi juga tidak segan-segan untuk ikut turun ke liang lahat menguburkan seorang sahabat atau sahabiyah. Di antaranya, ketika wafatnya Ummu Rumman, istri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yang juga ibu mertua Rasulullah.
Nabi juga tidak sungkan untuk menggendong bayi para sahabat yang baru lahir. Nabi mengunyahkan kurma untuk kemudian ‘dicicipi’ oleh sang bayi. Di antara bayi itu adalah Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhum.
Tidak sedikit pula para ibu yang datang untuk ‘menitipkan’ anak-anak mereka kepada Nabi. Mereka adalah anak-anak yatim. Para ibu ingin anak-anak mereka bisa melayani Nabi di rumah, sekaligus bisa belajar langsung dengan Nabi.
Nabi menerima mereka dengan senang hati. Di antara anak-anak itu adalah Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, dan lainnya.
Setelah Nabi wafat, cinta itu tetap melekat dari para sahabat. Bahkan seorang Bilal bin Rabbah radhiyallahu ‘anhu tak lagi mampu mengumandangkan azan.
Kenapa? Karena ia tak mampu lagi menyebut nama Rasulullah. Ia akan menangis sejadi-jadinya.
**
Cinta dan rasa hormat kepada pemimpin tidak bisa direkayasa. Tidak juga bisa dipaksa-paksakan. Rasa cinta dan penghormatan yang dalam mereka tumbuh alami sebagai buah dari pengorbanan tulus para pemimpin.
Para pemimpin selalu ada untuk mereka. Pemimpin soleh itu tidak sekadar mengatakan, tapi juga membuktikan. Dan pembuktian jauh lebih kuat dari seribu satu dalil dalam bentuk ucapan. [Mh]





