PERANG Iran dan AS kini memasuki babak baru. Bukan dengan adu kuat senjata. Tapi dengan kata-kata atau narasi.
AS dikenal sebagai adikuasa yang bukan sekadar kuat dalam militer. Tapi juga dalam jaringan opini dan berita. Bisa dibilang, lebih dari separuh media massa dunia dikuasai AS.
Semestinya, AS akan begitu mudah menguasai opini dan narasi tentang posisinya terhadap Iran. Tapi kenyataannya, hal itu tidak terjadi. Kalau pun dipaksakan, media massanya yang akan dijauhi publik.
‘Peperangan’ opini dan narasi itu antara lain tentang:
Satu, Kenapa Iran Diperangi
AS menyatakan kalau Iran diperangi karena ancaman senjata nuklirnya. Tapi, Iran mendalihkan informasi dari IAEA (International Atomic Energy Agency) yang berada di bawah PBB bahwa Iran terbukti tidak memiliki senjata nuklir.
Tiba-tiba Uni Eropa mengeluarkan pernyataan kalau IRGC atau pasukan khusus Iran diklaim sebagai teroris. Tapi Iran membuktikan dengan sabar kalau merekalah yang diserang duluan. Tidak tanggung-tanggung, akibat serangan itu lebih dari seratus anak SD tewas.
Dua, Iran Menyerang Negara-negara Teluk
Secara terus-menerus, media massa pro AS juga mengabarkan bahwa Iran menghancurkan gedung, bandara, fasilitas publik, dan lainnya milik negara-negara teluk. Antara lain, Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan lainnya.
Namun, Iran juga merilis dan menjelaskan kalau yang mereka serang merupakan fasilitas militer AS yang ada di negara-negara tersebut. Rilis-rilis itu juga disertai dengan rekaman video serangan.
Tiga, Iran Menyasarkan Rudalnya ke Warga Sipil Israel
Culasnya Israel menyembunyikan semua rekaman cctv di kota-kotanya, kecuali rekaman yang mereka buat sendiri. Rekaman itu tentang nenek atau anak-anak yang ditandu oleh tim penyelamat Israel menuju ambulan.
Namun, mereka tidak menjelaskan tentang gedung-gedung yang hancur itu kantor apa. Termasuk fasilitas militer yang berada di bawah gedung rumah sakit. Atau, apartemen-apartemen yang menjadi pos berkumpulnya anggota militer.
Namun kalau tentang Israel, opini dunia sudah berbalik 180 derajat. Apa pun yang dilakukan Israel, akan selalu dicap jahat oleh seluruh warga dunia, termasuk Eropa dan warga AS sendiri.
Empat, Pasukan AS Siap Menyerbu Iran lewat Darat
Sejumlah tayangan video di banyak media massa memuat tentang rekaman pasukan AS yang sedang siap siaga diterjunkan ke medan tempur. Disebutkan, AS akan menerjunkan 50 ribu pasukan khusus untuk menguasai wilayah Iran.
Namun, Iran membalasnya dengan opini yang tak kalah hebat. Judulnya, jutaan warga Iran siap mendaftar sebagai pasukan darat untuk melawan AS. Opini ini disertai dengan ribuan warga Iran yang tampak berbaris untuk mendaftar menjadi pasukan sukarela.
Lima, Iran Menyusahkan Dunia karena Menutup Hormuz
Hampir tiap jam, media massa dunia yang dikuasai AS menayangkan video keadaan Selat Hormuz yang tampak kacau: kapal-kapal minyak yang tak bisa lewat, dan seterusnya. Narasinya sedehana: Iran menyusahkan dunia karena menutup Hormuz.
Jawaban dari Iran begitu sederhana: sebelum AS dan Israel menyerang Iran tanpa sebab, Selat Hormuz tak pernah ditutup Iran. Selat yang melayani lalu lintas 40 persen hajat dunia itu berlangsung dengan aman damai.
Terakhir, AS mengabarkan kalau campur tangan militernya menutup Hormuz membuat Iran akhirnya membuka selat itu. Iran dianggap kalah.
Kemudian, televisi Iran menayangkan penjelasan dari Menlu mereka bahwa Iran membuka Hormuz karena sudah terjadi gencatan senjata di Lebanon selama 10 hari. Tapi jika itu batal, Hormuz akan kembali ditutup Iran. Dan saat ini, Iran kembali menutupnya karena ulah AS.
Para pengamat Barat akhirnya menilai kalau AS dan Israel telah kalah narasi dan opini tentang perang mereka. Mereka gagal menumbangkan rezim Iran, militer Iran masih tetap kuat seperti awalnya, dan Selat Hormuz masih dalam penguasaan Iran. [Mh]


