BISNIS dan hiburan memang sangat menarik. Bahkan, bisa melalaikan banyak orang dari ajaran Islam.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi hal yang tidak mengenakkan dari para sahabat radhiyallahum ajma’in. Mereka meninggalkan khutbah Jumat karena ada rombongan dagang yang menarik perhatian.
Saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang khutbah Jumat di masjid. Tiba-tiba datang rombongan dagang milik Dhihyah bin Khalifah dari Syam. Mereka membawa bahan-bahan makanan dan segala kebutuhan penting lainnya.
Rombongan dagang itu berhenti persis di depan masjid. Mereka pun membunyikan musik-musik gendang yang ditabuh untuk menarik perhatian. Bahkan, salah seorang anggota rombongan masuk ke masjid dan berteriak bahwa transaksi sudah bisa dimulai.
Sontak, para sahabat yang sebelumnya khusyuk mendengarkan khutbah dari Rasulullah langsung menoleh ke arah suara musik itu. Mereka pun berdiri, dan akhirnya keluar masjid meninggalkan Rasulullah yang sedang berkhutbah.
Dari sekian banyak sahabat yang hadir dalam shalat Jumat itu, hanya 12 orang saja yang tetap setia mendengarkan khutbah Rasulullah. Di antara mereka ada Jabir bin Abdullah (periwayat hadis), Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan lainnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak marah atau menunjukkan perubahan wajah karena kecewa. Dengan datar, Nabi mengatakan, “Sekiranya semua kalian terpengaruh dan tak menyisakan seorang pun, niscaya lembah ini akan mengalirkan api dan membakar kalian semua.”
Peristiwa inilah yang menjadi sebab turunnya Surah Al-Jumuah ayat 9 sampai 11. Setelah itu, peristiwa ini tak lagi terulang. Wallahu a’lam.
**
Betapa menggodanya bisnis dan musik. Keduanya, jika tanpa iman dan pemahaman yang cukup, bisa melalaikan banyak orang dari nilai-nilai Islam.
Bagaimana lalainya? Orang bisa menghalalkan segala cara. Orang bisa terlena dalam budaya yang melalaikan: joget-joget sensual, campur laki dan perempuan yang bukan mahram, dan lainnya.
Bahkan, bisa melalaikan dari ibadah kepada Allah, seperti mengabaikan perintah shalat.
Silakan berbisnis dan hiburan yang tidak melalaikan. Tapi ingat, menunaikan perintah ajaran islam harus yang pertama dan utama. [Mh]




