NENEK moyang yang baik menunjukkan identitas keluarga. Kenali mereka agar anak keturunan tidak salah arah.
Ada kakek nenek yang selalu bercerita tentang kakek nenek mereka ke anak cucu. Di setiap kesempatan, dan di setiap keadaan; cerita itu terus berulang seperti rekaman yang berulang.
“Dulu, kakek dan nenek kita itu seorang pejuang kemerdekaan. Mereka mengorbankan harta dan nyawa untuk bangsa ini,” begitu cerita dari kakek dan nenek.
Beberapa hari kemudian, di momen yang berbeda, kakek dan nenek cerita lagi: kakek dan nenek kita nggak pernah mengeluh kalau mereka sudah susah payah berjuang.
Sebegitu sering dan berulang-ulangnya, anak dan cucu sang kakek nenek itu merasa bosan. “Ah, itu lagi, itu lagi,” suara batin mereka ketika terus mereka dengar.
Melihat gelagat dari anak dan cucu-cucunya yang mulai bosan, kakek dan nenek itu mengatakan, “Kakek dan nenek menceritakan ini bukan asal bicara. Bukan sekadar dongeng. Tapi, supaya kalian tidak salah arah melangkah. Teladani kakek dan nenek kita sebagai seorang pejuang: rela berkorban, tidak takut dengan musuh, dan selalu optimis.”
Anak dan cucu-cucu itu pun mengangguk. Pesannya begitu dalam: jangan salah arah dalam melangkah, selalu meneladani nenek moyang yang baik.
**
Mungkin, sebagian kita bertanya kenapa ada ibadah haji, ibadah kurban, puasa sunnah Zulhijjah, dan seterusnya. Apa yang sedang Allah sampaikan kepada kita semua dari hikmah itu.
Jawabannya sederhana: Allah sedang mengingatkan kita tentang nenek moyang kita yang sangat hebat. Yaitu, Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimussalam.
Keduanya rela berkorban untuk umat manusia. Keduanya menghidupkan monumen persatuan umat Islam sedunia: Ka’bah. Keduanya mengajak kita semua untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun.
Hati-hati dengan pencitraan ‘nenek moyang’ lain yang bersifat lokal. Jika salah panutan, kita akan salah arah. [Mh]


