KENANGAN itu tumbuh dua arah: subjek dan objek. Jangan ada kenangan buruk dari arah mana pun.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memberikan kenangan yang baik untuk siapa pun yang hidup di masanya. Sebaliknya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan mengenang orang-orang terdekatnya dengan kenangan yang baik.
Kenangan yang sulit terlupakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ketika bersama cucu-cucunya. Inilah di antara fase terindah dari orang tua yang menjadi kenangan terindah sampai mati.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah merekam indahnya kenangan itu. Yaitu, ketika di sebuah shalat Isya berjamaah Rasulullah melakukan sujud yang begitu lama.
Para sahabat sebenarnya merasa khawatir terjadi apa-apa terhadap Nabi. Tapi, mereka tetap sabar menunggu.
Seusai shalat, para sahabat masih belum mendapatkan jawaban. Kenapa sujudnya begitu lama? Apa Rasulullah sakit, atau memang ada doa tertentu.
Akhirnya Rasulullah menjelaskan, di saat beliau sedang sujud, dua cucu lelakinya: Hasan dan Husein datang kemudian menaiki punggung sang kakek. Rasulullah tak tega menyudahi kesenangan keduanya saat berada di atas punggung Nabi.
Bukan hanya dengan Hasan dan Husein. Hal yang sama juga pernah dialami Nabi ketika bersama Umamah binti Abul ‘Ash (putri dari Zainab binti Rasulullah).
Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu merekamnya dalam hadis muttafaqun ‘alaih: riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Jika Rasulullah berdiri, beliau menggendongnya. Dan jika Rasulullah sujud, beliau meletakkannya di bawah.
Di riwayat lain, Rasulullah juga pernah membawa serta Umamah yang masih kecil ikut bersama kakeknya dalam khutbah di hadapan jamaah.
Mungkin saja, semua cucu Nabi itu sudah lupa peristiwa di masa kecil mereka ketika bersama kakeknya. Tapi, untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, itulah kenangan terindah yang sulit terlupakan.
**
Di setiap fase usia tertentu, anak akan menjadi sosok tersendiri yang akan dikenang orang tuanya. Ketika bayi, ketika batita, ketika balita, ketika remaja, dan seterusnya.
Di fase-fase itu, seolah-olah anak yang sama menjadi sosok-sosok yang berbeda. Dan semuanya menjadi kenangan tersendiri.
Sebaliknya, ketika sang anak sudah mampu merekam suasana di masanya, juga akan ada kenangan yang berbeda di setiap masanya.
Duhai ayah ibu, jangan pernah tinggalkan kenangan pada anak-anak kecuali yang terbaik untuk mereka. Begitu pun untuk anak-anak: jangan pernah tinggalkan kenangan buruk justru di saat orang tua memasuki masa lansia. [Mh]



