DALAM kehidupan, kita sering tanpa sadar menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran kebahagiaan. Ketika dipuji, hati merasa senang dan percaya diri. Sebaliknya, ketika mendapat kritik atau celaan, kita bisa merasa kecewa bahkan berhari-hari memikirkannya. Padahal, manusia memiliki kesibukan dan kehidupannya masing-masing. Apa yang hari ini mereka perhatikan tentang kita, belum tentu akan mereka ingat esok hari.
Orang yang pernah memuji kita mungkin suatu saat pergi. Teman yang dahulu selalu menemani bisa memiliki kesibukan baru. Bahkan orang yang pernah mencela dan merendahkan kita pun pada akhirnya akan berlalu dengan kehidupannya sendiri. Hal tersebut mengajarkan bahwa menggantungkan kebahagiaan pada penilaian manusia hanya akan membuat hati mudah berubah.
Baca Juga: Ini Cara Alami Membantu Mengatasi Kutu Air
Belajar Tidak Bergantung pada Penilaian Manusia
Kita tidak mungkin membuat semua orang menyukai kita. Sebaik apa pun kita bersikap, pasti ada saja yang memiliki pandangan berbeda. Ketika berusaha memenuhi semua penilaian tersebut, kita justru bisa kehilangan diri sendiri. Kita menjadi terlalu sibuk memikirkan apa yang dikatakan orang hingga lupa bertanya apakah kehidupan yang dijalani sudah sesuai dengan apa yang Allah ridai.
Bukan berarti kita tidak boleh menerima nasihat atau memperhatikan penilaian orang lain. Kritik yang baik tetap bisa menjadi bahan untuk memperbaiki diri. Namun, jangan sampai komentar manusia menentukan harga diri kita. Pujian tidak selalu berarti kita benar, begitu pula celaan tidak otomatis membuat kita menjadi buruk.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana hubungan kita dengan Allah. Ketika manusia tidak lagi melihat usaha kita, Allah tetap mengetahuinya. Ketika tidak ada seorang pun yang memahami perjuangan kita, Allah mengetahui setiap air mata, doa, kesabaran, dan usaha yang kita lakukan.
Karena itu, daripada terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia, lebih baik gunakan waktu untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Perbaiki salat, perbanyak doa, belajar bersyukur, memperbaiki akhlak, dan berusaha meninggalkan hal-hal yang tidak disukai-Nya. Tidak perlu selalu menunjukkan kepada dunia bahwa kita sedang berusaha menjadi lebih baik. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Allah saja.
Pada akhirnya, manusia akan kembali pada urusan masing-masing. Mereka mungkin tidak selalu hadir ketika kita membutuhkan, tidak selalu mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, dan tidak selamanya memahami perjalanan hidup kita.
Namun, Allah tidak pernah lalai terhadap hamba-Nya. Ketika semua orang pergi, Dia tetap ada. Ketika dunia terasa sepi, kita masih memiliki tempat untuk mengadu melalui doa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Maka, hiduplah dengan tujuan mencari ridha Allah, bukan sekadar mengejar tepuk tangan manusia. Sebab penilaian manusia berubah-ubah, sementara perhatian Allah selalu menyertai kita. Semoga hati kita semakin tenang karena menyadari bahwa yang paling penting bukan bagaimana manusia melihat kita, melainkan bagaimana Allah memandang kehidupan dan amal kita. [DW]
Sumber: Ustadz Hanan Attaki





