ADAB lebih tinggi dari ilmu. Orang yang beradab sudah pasti berilmu. Tapi, orang yang berilmu belum tentu memiliki adab yang baik.
Para ulama salaf mengajarkan bahwa adab lebih tinggi dari ilmu. Mereka dididik untuk lebih dahulu belajar adab sebelum ilmu.
Dengan begitu ilmunya sangat menyejukkan. Ada sinergi positif antara ilmu dan amal yang nyata.
Belajar Adab dari Nabi Musa alaihissalam
Al-Qur’an menyebutkan sosok Nabi Musa alaihissalam dengan pelajaran adabnya. Setidaknya, ada dua adab yang disebutkan.
Yaitu, adab ketika berdakwah, meskipun yang didakwahi itu orang jahat seperti Firaun. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44)
Kedua, adab ketika belajar dengan Nabi Khidir alaihissalam.
Dalam Surah Al-Kahfi ayat 66, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk.”
Perhatikanlah ucapan Nabi Musa di ayat itu. Beliau alaihissalam meminta izin terlebih dahulu. Kedua, beliau alaihissalam mendahulukan kata ittiba’ atau mengikuti daripada menimba ilmu.
Dengan begitu, beliau ingin menunjukkan siap mengikuti, menerima arahan, untuk belajar ilmu.
Hal ini menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Padahal, Nabi Musa alaihissalam adalah Nabi yang berbicara langsung dengan Allah subhanahu wata’ala.
Dahulukan adab dari apa pun. Karena, di situlah kemuliaan seseorang terukur jelas. [Mh]


