MENDUKUNG perjuangan Palestina harus terus dilakukan karena genosida terus dialami rakyat Palestina. Bukan sejak 7 Oktober 2023, namun bahkan dimulai sejak sebelum peristiiwa Nakbah 1948. Untuk mengingatkan tentang awal mula tragedi terburuk bagi bangsa Palestina ini, Perempuan Seni Indonesia untuk Palestina (PUSPA) mengadakan kajian daring bertema “Dari Nakbah ke Keffiyeh: Menelusuri Jejak Perjuangan Palestina melalui Seni” pada Sabtu (16/5). Kajian dihadiri setidak 150 para pendukung Palestina, dengan narasumber Pizaro Gozali Idrus (Pengamat Timur Tengah) dan Sri Vira Chandra (Ketua PUSPA).
PUSPA adalah salah satu sayap organisasi Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) yang diketuai oleh Nurjanah Hulwani, S.Ag, ME. Dalam kata sambutannya, Nurjanah mengapresiasi acara yang diinisiasi oleh PUSPA yang baru terbentuk bulan Oktober 2025 ini. Ia mengingatkan untuk terus bergerak membela Palestina dan meramaikan media sosial dengan berita kekinian dan pembelaan terhadap Palestina, melawan algoritma yang sering tidak berpihak kepada bangsa Palestina
Pizaro, dengan pengalaman jurnalisme dan advokasinya terkait Palestina menjabarkan sejarah terjadinya Nakbah dan dampaknya hingga saat ini. Para founding father Indonesia sejak awal melakukan pembelaan yang cukup keras terhadap migrasi besar-besaran orang-orang Yahudi ke Palestina sejak era Mandat Inggris,Partition Plan PBB (1947) hingga terjadinya Nakbah (1948).
Ia pun mengingatkan jasa Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia lewat tokoh Palestina seperti saudagar kaya Muhammad Ali Tahir, Syekh Amin Al-Husaini aktif melobi negara-negara di Timur Tengah melalui Liga Arab agar mendukung dan mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua PUSPA, Sri Vira Chandra, memaparkan perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan sejak Nakba melalui seni dengan simbol warisan budaya seperti zaitun, kunci, tatreez (sulaman tradisional) dalam bentuk mural, lukisan, puisi, yang menggambarkan kehilangan, perlawanan, dan penjagaan terhadap identitas Palestina.

Vira juga membacakan salah satu puisi terkenal Mahmoud Darwis ((13 Maret 1941 – 9 August 2008)yang berjudul “Kartu Identitas” yang telah diterjemahkan dengan sangat baik oleh Saur Situmorang, salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia. Salah satu bait “Kartu Identitas” Mahmoud Darwis menggambarkan perlawanan dan ketidaksudian terhadap perampasan tanah Palestina oleh zionis:
Catat!
Aku orang Arab
Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku
Dan tanah yang kugarap
Bersama anak-anakku
Dan tak ada lagi sisa bagi kami
Kecuali batu-batu ini…
Apa negara pun akan diambil juga
Seperti kata orang?!
Vira menegaskan bahwa sesungguhnya perjuangan membela Palestina adalah hak dan kewajiban setiap rakyat Indonesia dan bisa dilakukan dengan apa yang kita bisa, termasuk bakat dan kemampuan Seni yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta karena seni adalah bahasa, termasuk bentuk perlawanan damai yang kuat dalam menyuarakan tuntutan keadilan dan pembelaan. [Mh/KPIPA]



