ZAINAB binti Khuzaimah radhiyallahu ‘anha meninggalkan jejak kebaikan yang begitu besar hingga dikenang sepanjang sejarah Islam. Bahkan, sebelum menikah dengan Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam, ia telah mendapat julukan Ummul Masakin, yang berarti “Ibu Kaum Miskin”. Julukan itu bukan diberikan tanpa alasan, melainkan karena kepeduliannya yang luar biasa kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.
Zainab berasal dari kabilah Bani Hilal. Sejak masa jahiliyah, ia telah dikenal sebagai perempuan yang berhati lembut dan gemar berbagi. Ia tidak pernah menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Apa yang dimilikinya sering kali diberikan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Kebiasaan inilah yang membuat masyarakat menghormatinya jauh sebelum Islam datang.
Setelah memeluk Islam, semangat berbagi Zainab semakin kuat. Ia memahami bahwa harta hanyalah titipan dari Allah dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Baginya, membantu orang lain bukan sekadar bentuk kebaikan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah.
Baca Juga: Saudah binti Zam’ah, Ummul Mukminin yang Dikenal karena Kesederhanaan dan Keluhuran Akhlaknya
Zainab binti Khuzaimah, Sosok Mulia yang Dikenal Sebagai Ibu Kaum Miskin
Sebelum menjadi istri Rasulullah, Zainab pernah menikah dengan beberapa sahabat. Suaminya yang terakhir adalah Abdullah bin Jahsy radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat pemberani yang gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Kepergian sang suami membuat Zainab harus menghadapi masa sulit sebagai seorang janda.
Melihat keadaan tersebut, Rasulullah menikahi Zainab pada tahun ke-4 Hijriah. Pernikahan ini bukan hanya menjadi bentuk penghormatan kepada seorang perempuan salehah, tetapi juga menunjukkan perhatian Islam terhadap para janda yang ditinggal suaminya karena berjuang di jalan Allah. Rasulullah senantiasa memuliakan mereka yang telah berkorban demi agama.
Meskipun telah menjadi Ummul Mukminin atau Ibunda Kaum Mukminin, kehidupan Zainab tetap sederhana. Kedudukannya sebagai istri Rasulullah tidak membuatnya berubah menjadi pribadi yang mencintai kemewahan. Sebaliknya, ia tetap dikenal sebagai sosok yang dermawan. Harta yang dimiliki lebih sering mengalir kepada orang-orang yang membutuhkan daripada dinikmati untuk dirinya sendiri.
Keistimewaan Zainab bukan terletak pada lamanya ia mendampingi Rasulullah, melainkan pada kualitas amal dan akhlaknya. Sayangnya, kebersamaan mereka hanya berlangsung sekitar delapan bulan. Zainab wafat pada usia sekitar 30 tahun dan menjadi istri Rasulullah pertama yang meninggal dunia setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Rasulullah sangat menghormatinya. Beliau sendiri turut menyalatkan jenazah Zainab dan memakamkannya di Baqi’, Madinah. Meski usianya tidak panjang, namanya tetap dikenang sebagai perempuan yang memiliki hati penuh kasih sayang terhadap sesama.
Kisah Zainab binti Khuzaimah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari lamanya hidup, banyaknya harta, ataupun tingginya kedudukan. Kemuliaan sejati lahir dari keikhlasan dalam berbuat baik. Julukan Ummul Masakin menjadi bukti bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan meninggalkan jejak yang panjang, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia sibuk mengejar kepentingan pribadi, teladan Zainab terasa semakin relevan. Masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan, perhatian, maupun sekadar kepedulian. Menolong tidak selalu harus dengan jumlah yang besar. Senyum, makanan, pakaian layak pakai, atau bantuan kecil yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. [DW]
Sumber: 39 Kisah Shahabiyah. Walidah Ariyani. Win Media: 2022.





