NAMA Laila Binti Abi Hatsmah mungkin tidak sepopuler Khadijah, Aisyah, atau Sumayyah, tetapi perjalanan hidupnya menyimpan keberanian yang luar biasa. Ia termasuk perempuan generasi awal yang menerima Islam dan rela meninggalkan kenyamanan demi mempertahankan keimanannya.
Laila dikenal sebagai Laila binti Abi Hatsmah bin Hudzaifah bin Ghanim dari Quraisy Bani Adi. Ia merupakan istri Amir bin Rabi’ah, salah seorang sahabat Rasulullah. Dari pernikahannya, Laila memiliki seorang putra bernama Abdullah bin Amir bin Rabi’ah. Ia juga dikenal dengan kunyah Ummu Abdullah. Sumber-sumber sejarah menyebut Laila sebagai salah satu perempuan yang lebih dahulu memeluk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah.
Baca Juga: Yusairah binti Yasir, Shahabiyah Ahli Dzikir yang Jarinya Menjadi Saksi Kebaikan
Laila Binti Abi Hatsmah Sang Perintis Hijrah di Jalan Allah
Keislaman Laila tidak berlangsung dalam suasana yang mudah. Pada masa awal dakwah di Makkah, kaum Muslimin menghadapi tekanan dan gangguan dari kaum Quraisy. Keadaan itu membuat sebagian sahabat harus mencari tempat yang lebih aman agar dapat mempertahankan agama mereka.
Laila bersama suaminya kemudian termasuk rombongan kaum Muslimin yang berhijrah menuju Habasyah. Perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah tempat tinggal. Bagi Laila, hijrah berarti meninggalkan tanah kelahiran, lingkungan yang sudah dikenalnya, serta kenyamanan hidup demi menjaga keyakinan kepada Allah. Catatan sejarah memasukkan Laila dan Amir bin Rabi’ah dalam kelompok awal kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah.
Ada satu kisah menarik yang memperlihatkan keteguhan Laila sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah masuk Islamnya Umar bin Khattab. Ketika Laila hendak berangkat menuju Habasyah, Umar yang saat itu dikenal keras terhadap kaum Muslimin mendatanginya.
Umar bertanya ke mana Laila hendak pergi. Dengan tegas Laila menjawab bahwa mereka telah disakiti karena agama dan ingin pergi ke tempat di mana mereka dapat beribadah tanpa gangguan. Mendengar jawaban itu, Umar justru mengucapkan doa agar Allah menyertai perjalanan mereka. Laila melihat perubahan sikap tersebut sebagai sesuatu yang berbeda dari Umar sebelumnya. Ia bahkan berharap Umar kelak mendapatkan hidayah.
Kisah itu menunjukkan bahwa Laila bukan perempuan yang pasif dalam menghadapi keadaan. Ia mampu berbicara dengan tegas ketika harus mempertahankan keyakinannya. Bahkan di tengah tekanan, ia tetap menyimpan harapan bahwa orang yang selama ini memusuhinya suatu hari dapat menemukan jalan menuju Islam.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Laila kemudian menjalani dua perjalanan hijrah. Setelah hijrah ke Habasyah, ia bersama suaminya juga berhijrah menuju Madinah. Karena itu, ia dikenal sebagai salah satu sahibah al-hijratain, perempuan yang mengalami dua hijrah. Sejumlah riwayat bahkan menyebut Laila sebagai perempuan pertama yang memasuki Madinah dalam perjalanan hijrah, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa perempuan pertama yang tiba di Madinah.
Kisah Laila binti Abi Hatsmah mengajarkan bahwa perjuangan perempuan dalam sejarah Islam bukan hanya berada di balik layar. Ia turut mengambil keputusan besar, meninggalkan kampung halaman, menanggung ketidakpastian perjalanan, dan mempertahankan agama ketika tekanan datang bertubi-tubi.
Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam kisah-kisah populer, tetapi langkahnya meninggalkan jejak penting. Laila menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk pertempuran. Terkadang keberanian adalah memilih iman ketika mempertahankannya membuat seseorang harus meninggalkan segala sesuatu yang dicintainya.
Dari Laila kita belajar bahwa hijrah bukan hanya perjalanan menuju tempat baru. Hijrah juga merupakan keberanian untuk memilih Allah ketika pilihan itu terasa berat. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.




