ADA sahabat Rasulullah yang dikenal bukan karena banyaknya harta, luasnya rumah, atau kemewahan hidup. Justru, semakin dekat ia dengan Allah, semakin ringan pula hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satunya adalah Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang terkenal dengan ilmu, hikmah, ibadah, dan kezuhudannya.
Abu Darda memiliki nama Uwaimir bin Zaid bin Qais al-Anshari dan berasal dari Bani al-Haritsah, salah satu kabilah Khazraj. Menariknya, sebelum kehidupannya dipenuhi kezuhudan, ia dikenal sebagai seorang pedagang. Setelah memeluk Islam, orientasi hidupnya berubah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan sarana untuk mendapatkan kehidupan akhirat.
Baca Juga: Khairah binti Abi Hadrad, Shahabiyah Cerdas yang Dikenal Tekun Beribadah
Ketika Dunia Tak Lagi Menjadi Tujuan, Begini Kisah Zuhud Abu Darda
Zuhud Abu Darda bukan berarti membenci dunia atau menganggap semua harta sebagai sesuatu yang buruk. Zuhud lebih berkaitan dengan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hati. Seseorang boleh memiliki harta, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh harta tersebut.
Alkisah pada suatu malam, Abu Darda kedatangan serombongan tamu. Untuk mereka, ia menyediakan makanan hangat, tetapi tidak menyediakan selimut padahal malam begitu dingin. Ketika tiba waktu tidur, tamu-tamu tersebut berunding soal selimut.
“Aku akan menemuinya untuk membicarakan soal selimut ini.” kata salah seorang tamu.
“Jangan.” kata yang lain “tidak usah.”
Akhirnya, salah seorang dari tamu tersebut menghampiri Abu Darda. Dilihatnya si tuan rumah tidur membujur dengan istrinya dan hanya mengenakan pakaian tipis yang sama sekali tidak mampu menahan hawa dingin.
Tak tahan, seorang tamu bertanya, “Ya Abu Darda, kulihat Anda tidur seperti kami. Mana barang-barang hasil perniagaan Anda?”
Abu Darda menjawab, “Kita punya rumah “di sana.” sehingga semua barang kukirimkan “ke sana.”Jalan yang harus ditempuh untuk mencapai “rumah” itu penuh rintangan dan kesulitan. Dengan demikian, orang yang bawaannya ringan lebih enak dibandingkan yang bawaannya berat.”
Abu Darda juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu. Ia tidak memandang banyaknya harta sebagai ukuran keberhasilan seseorang. Dalam salah satu nasihat yang dinisbatkan kepadanya, ia menganjurkan manusia untuk bertakwa, bersikap zuhud terhadap dunia, dan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kecintaannya terhadap ibadah pun begitu kuat. Sebuah riwayat yang dinukil Ibnu Asakir menyebutkan bahwa Abu Darda mengungkapkan kecintaannya terhadap tiga perkara: rasa haus ketika panas, sujud pada malam hari, dan duduk bersama orang-orang yang memilih perkataan yang baik. Namun, sumber tersebut juga memberikan catatan bahwa riwayat dengan redaksi tersebut tidak diketahui sebagai atsar yang sahih dari sahabat. Karena itu, kisah semacam ini perlu disampaikan dengan hati-hati.
Kezuhudan Abu Darda memberikan pelajaran penting bagi kehidupan modern. Zuhud bukan berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau seluruh kenikmatan yang halal. Yang perlu ditinggalkan adalah keterikatan hati yang membuat manusia lupa kepada Allah.
Seseorang boleh memiliki rumah yang nyaman, kendaraan, pekerjaan, dan penghasilan yang baik. Namun semua itu tidak seharusnya membuatnya sombong atau lalai. Jika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Jika kehilangan sesuatu, ia tetap bersabar.
Inilah salah satu sisi menarik dari kehidupan Abu Darda. Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya sesuatu yang berada di tangan, tetapi pada sedikitnya sesuatu yang menguasai hati. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah SAW. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.



