DI tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen global, industri brand halal dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang besar. Sebuah seminar yang mengangkat tema “Empowering Halal Brands in the Digital Era” membahas pentingnya pergeseran strategi bagi pelaku usaha agar tidak hanya sekadar berlabel halal, tetapi juga memiliki daya tarik yang kuat di pasar digital.
Berdasarkan paparan dalam acara tersebut, terdapat lima pergeseran utama yang sedang terjadi saat ini dan wajib dicermati oleh para pemilik brand:
Video Commerce: Pemanfaatan video kian mendominasi, di mana penjualan tercatat naik signifikan, menunjukkan tingginya minat konsumen terhadap konten visual interaktif.
AI Menjadi Kebiasaan Harian: Mayoritas pengguna kini memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam aktivitas harian mereka, yang turut mendongkrak pendapatan aplikasi berbasis AI secara drastis.
Transformasi Bisnis, Strategi Memperkuat Brand Halal di Era Digital
Skala Ekonomi Digital: Pertumbuhan ekonomi digital dan e-commerce terus menunjukkan tren positif dengan skala yang semakin masif.
Infrastruktur Berbasis Teknologi: Adopsi sistem rantai pasok yang terintegrasi dengan teknologi modern kian transparan dan diandalkan dalam operasional bisnis.
Pasar Global Muslim: Potensi ekonomi dan konsumsi produk halal di tingkat global terus mengalami proyeksi pertumbuhan yang luar biasa dari tahun ke tahun.
Selain pergeseran tren, diskusi ini juga menyoroti konsep “Tujuh Lapis yang Harus Dimiliki, Bukan Disewa” (The Seven Layer Digital OS), yang menjadi fondasi penting bagi sebuah brand untuk membangun ekuitas jangka panjang:
Purpose: Kejelasan visi dan alasan utama berdirinya sebuah brand.
Trust: Membangun kepercayaan melalui sertifikasi, transparansi, dan keamanan.
Desirability: Menciptakan daya tarik lewat desain, cerita, dan pengalaman konsumen yang kuat.
Discovery: Memanfaatkan konten dan algoritma kreator sebagai sistem penemuan produk.
Community: Membangun rasa memiliki, partisipasi, dan ritual yang terhubung dengan konsumen.
Commerce: Menyediakan kemudahan bertransaksi melalui social commerce, marketplace, hingga model direct-to-consumer (D2C).
Intelligence: Mengoptimalkan data pelanggan dan personalisasi berbasis AI untuk memprediksi permintaan pasar.
Melalui pemaparan ini, para pelaku usaha diimbau untuk beralih dari sekadar mengejar perhatian sesaat (attention) menuju pembangunan loyalitas jangka panjang. Dengan menggabungkan prinsip halal dan strategi digital yang adaptif, brand lokal diharapkan mampu bersaing dan menjadi pilihan utama di pasar global. [Din]





