TIDAK semua anak mewarisi jalan hidup orang tuanya. Ada yang tumbuh di lingkungan penuh kebencian, tetapi justru memilih jalan kebenaran. Kisah inilah yang tergambar dalam kehidupan Durrah binti Abu Lahab, seorang shahabiyah yang membuktikan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh iman dan ketakwaannya kepada Allah.
Nama Durrah mungkin tidak sepopuler Aisyah atau Khadijah, namun perjalanan hidupnya menyimpan pelajaran besar. Ia adalah putri Abu Lahab, paman Rasulullah yang namanya diabadikan dalam Surah Al-Lahab sebagai salah satu penentang dakwah Islam. Di tengah kerasnya permusuhan ayah dan ibunya terhadap Nabi, Allah menghadiahkan hidayah kepada hati Durrah. Ia memilih memeluk Islam, meski keputusan itu berarti harus berseberangan dengan keluarganya sendiri.
Baca Juga: Asy Syifa Binti Abdullah Perempuan Cerdas yang Mengajarkan Ilmu kepada Muslimah
Durrah Binti Abu Lahab Mutiara Iman dari Rumah Musuh Islam
Memilih Iman di Atas Ikatan Keluarga
Durrah lahir dari keluarga Bani Hasyim. Ayahnya adalah Abu Lahab, sedangkan ibunya Ummu Jamil dikenal sebagai sosok yang turut menyakiti Rasulullah. Meski dibesarkan di rumah yang memusuhi Islam, Durrah tidak menutup hatinya terhadap kebenaran.
Saat cahaya Islam datang, ia menerima dakwah Rasulullah dengan penuh keyakinan. Keputusannya menjadi muslimah menunjukkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain. Prinsip inilah yang tampak nyata dalam kehidupan Durrah.
Hijrah yang Penuh Pengorbanan
Setelah memeluk Islam, Durrah termasuk wanita yang berhijrah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat tinggal, melainkan meninggalkan kenyamanan demi mempertahankan iman. Perjalanan dari Makkah menuju Madinah pada masa itu sangat berat, terlebih bagi seorang perempuan yang harus meninggalkan keluarga, harta, dan kampung halamannya.
Sesampainya di Madinah, ujian belum berakhir. Beberapa wanita sempat menyindirnya, “Apa manfaat hijrahmu, sedangkan engkau putri Abu Lahab?” Ucapan itu tentu menyakitkan karena ia terus dibayangi dosa ayahnya. Mendengar hal tersebut, Rasulullah membela Durrah di hadapan kaum muslimin. Beliau menegaskan bahwa menyakiti orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan beliau adalah perbuatan yang tidak layak, sekaligus mengangkat kehormatan Durrah sebagai seorang mukminah.
Dekat dengan Rasulullah
Durrah dikenal sebagai perempuan yang gemar menuntut ilmu. Ia sering berada di majelis Rasulullah bersama para shahabiyah lainnya, termasuk Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia juga meriwayatkan hadis dari Rasulullah, menjadi bagian dari mata rantai ilmu yang diwariskan kepada generasi setelahnya.
Kedekatannya dengan Rasulullah bukan karena status keluarganya, melainkan karena keimanan dan kesungguhannya dalam belajar. Hal ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah diraih melalui amal saleh, bukan nama besar keluarga.
Keteladanan Durrah bagi Muslimah
Ada beberapa pelajaran berharga dari kehidupan Durrah binti Abu Lahab. Pertama, jangan pernah merasa masa lalu keluarga menentukan masa depan kita. Hidayah adalah hak Allah, dan setiap orang memiliki kesempatan menjadi pribadi yang mulia.
Kedua, berani mempertahankan prinsip meski harus berbeda dengan lingkungan terdekat. Durrah memilih Islam ketika orang tuanya justru menjadi musuh dakwah. Keberaniannya lahir dari keyakinan, bukan pemberontakan.
Ketiga, tetap menjaga kelembutan hati saat menerima hinaan. Ia tidak membalas ejekan dengan kemarahan, tetapi mengadukannya kepada Rasulullah. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi ujian sosial.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Durrah binti Abu Lahab adalah bukti bahwa bunga yang indah dapat tumbuh di tanah yang tandus. Dari rumah yang dipenuhi permusuhan terhadap Islam, lahirlah seorang wanita beriman yang namanya dikenang sebagai shahabiyah teladan. Semoga kisahnya menguatkan hati setiap muslimah untuk terus memilih kebenaran, apa pun keadaan yang mengelilinginya. [DW]




