TIDAK ada manusia yang luput dari kesalahan. Bahkan orang yang rajin beribadah sekalipun bisa tergelincir dalam dosa apabila tidak menjaga pandangan dan hatinya. Namun, Islam selalu membuka pintu taubat bagi siapa saja yang benar-benar menyesali perbuatannya. Salah satu kisah yang sering diceritakan dalam literatur nasihat Islam adalah perjalanan taubat Tsa’labah bin Abdurrahman, seorang pemuda yang dikenal rajin melayani Rasulullah SAW.
Kisah ini mengajarkan bahwa dosa bukanlah akhir dari segalanya. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang kembali kepada Allah dengan hati yang penuh penyesalan dan harapan akan ampunan-Nya.
Menurut riwayat yang banyak dinukil dalam kitab-kitab targhib dan mau’izhah, Tsa’labah bin Abdurrahman merupakan seorang pemuda yang dekat dengan Rasulullah SAW. Ia sering membantu berbagai keperluan Nabi sehingga dikenal sebagai pribadi yang taat dan memiliki semangat tinggi dalam beribadah.
Baca Juga: Kisah Teladan Ghaziyah binti Jabir Al-Amiriyah yang Memilih Iman di Atas Segalanya
Air Mata Taubat Tsa’labah bin Abdurrahman yang Menggetarkan Hati
Suatu hari, ketika menjalankan suatu keperluan, tanpa sengaja pandangannya tertuju kepada seorang perempuan yang sedang berada di dalam rumahnya. Ia terus memandang hingga menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Seketika itu juga hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah. Ia khawatir dosa tersebut membuat Allah murka kepadanya dan Rasulullah SAW tidak lagi berkenan menerimanya.
Perasaan bersalah itu begitu besar hingga Tsa’labah memilih meninggalkan Madinah dan mengasingkan diri ke daerah pegunungan. Di tempat sunyi itu ia terus menangis, beristighfar, dan memohon ampun kepada Allah siang maupun malam. Penyesalan yang ia rasakan begitu mendalam sehingga disebutkan tubuhnya menjadi kurus karena terus menangis dan memperbanyak ibadah.
Beberapa waktu kemudian Rasulullah SAW menyadari bahwa Tsa’labah sudah lama tidak terlihat. Beliau menanyakan keberadaannya kepada para sahabat. Setelah dilakukan pencarian, akhirnya diketahui bahwa Tsa’labah berada di sebuah pegunungan dalam keadaan sangat lemah karena terus menangis dan beribadah.
Atas perintah Rasulullah SAW, Salman Al-Farisi dan Abu Darda’ pergi menjemputnya. Ketika bertemu, keduanya mendapati Tsa’labah masih diliputi rasa takut kepada Allah. Ia bahkan merasa tidak pantas kembali menemui Rasulullah karena dosa yang telah diperbuatnya.
Setelah diyakinkan, Tsa’labah akhirnya kembali ke Madinah. Rasulullah SAW menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan mendoakannya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Tsa’labah kemudian jatuh sakit akibat kondisi fisiknya yang sangat lemah. Rasulullah SAW menjenguknya dan memberikan nasihat agar tetap berharap kepada rahmat Allah. Tidak lama setelah itu, Tsa’labah wafat dalam keadaan terus memohon ampun kepada Allah SWT.
Meski kisah ini sangat populer di berbagai majelis ilmu, para ulama ahli hadis memberikan catatan penting mengenai status riwayatnya. Riwayat tentang Tsa’labah bin Abdurrahman dinilai lemah (dha’if) karena terdapat kelemahan pada sanadnya. Oleh sebab itu, kisah ini tidak dapat dijadikan dasar penetapan hukum syariat. Namun, banyak ulama tetap menyebutkannya dalam kitab-kitab motivasi dan nasihat sebagai pelajaran tentang pentingnya taubat, selama dijelaskan status riwayatnya.
Pelajaran terbesar dari kisah Tsa’labah adalah besarnya rasa takut kepada Allah ketika melakukan kesalahan. Di zaman sekarang, dosa sering kali dianggap hal yang biasa. Sebaliknya, Tsa’labah justru merasa sangat bersalah hanya karena pandangan yang tidak dijaga. Sikap ini menunjukkan betapa hidupnya hati seorang mukmin ketika menyadari telah melanggar perintah Allah.
Selain itu, kisah ini juga mengingatkan bahwa pintu taubat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun bagi siapa saja yang datang dengan penyesalan yang tulus, meninggalkan dosanya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, seberat apa pun kesalahan yang pernah dilakukan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, kisah Tsa’labah bin Abdurrahman mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada tidak pernah berbuat salah, melainkan pada kesungguhannya untuk kembali kepada Allah setiap kali tergelincir. Taubat yang lahir dari hati yang ikhlas akan mengantarkan seorang hamba semakin dekat kepada Rabb-nya.
Sumber: Dahsyatnya Ibadah. Arifin Yanuar. Noktah: 2020.





