KEBODOHAN tak selalu karena kurangnya nalar pikiran. Tapi, bisa jadi karena budaya yang keliru.
Dalam sebuah final sepak bola antar kampung, kesebelasan A bermain ‘halus’. Sementara, kesebelasan B bermain apa adanya.
Bermain ‘halus’ artinya pelatih kesebelasan A menyewa dukun agar timnya bisa menang telak. Ia siap membayar mahal sang dukun asal bisa ada jaminan bisa menang telak itu.
“Berapa skor akhir yang kalian mau?” tanya sang dukun.
“Sepuluh kosong, Mbah. Biar menang telak!” jawab pelatih.
“Baiklah. Tapi, gawang kalian yang di sebelah mana?” tanya sang dukun.
“Itu, Mbah. Yang dekat pohon mangga,” jawab pelatih.
“Baiklah, saya jamin kalian menang sepuluh kosong! Gawang kalian aman,” pungkas sang dukun.
Pertandingan pun dimulai. Tim A begitu percaya diri kalau mereka akan bisa menang sepuluh kosong.
Benar saja. Di babak pertama, tim A menang telak empat kosong. Tim B terlihat begitu loyo dan kacau.
Setelah istirahat, babak kedua pun dimulai. Kali ini, Tim A yang terlihat loyo dan kacau. Tidak tanggung-tanggung, ada enam gol yang dijebol Tim B ke gawang Tim A.
Pluit akhir pun ditiup wasit. Skor akhirnya: enam empat untuk kemenangan Tim B.
Di luar lapangan, pelatih Tim A protes keras ke dukun. “Saya sudah bayar mahal, kok hasilnya meleset jauh, Mbah?” ucapnya.
“Meleset gimana? Di catatan saya benar kok: sepuluh kosong!” sanggah dukun.
“Iya. Di babak pertama, kami memang menang empat kosong. Tapi, di babak kedua, setelah pindah gawang, kami kalah enam gol!” sergah sang pelatih tak mau kalah.
“Lha, kenapa ada pindah gawang? Patokan saya, gawang yang dekat pohon mangga saya jamin aman,” jelas sang dukun.
**
Meskipun perdukunan tidak pernah seirama dengan nalar, tetap saja masih banyak orang yang percaya. Bahkan, rela membayar mahal untuk mendapatkan ‘bantuan’nya.
Konon, bukan hanya di kalangan bawah. Kalangan atas: pejabat, artis, dan pebisnis pun dikabarkan ikutan di wilayah ‘kebodohan’ ini.
Semoga kabar seperti ini hanya isu. Dan bukan fakta yang sebenarnya. [Mh]





