SETIAP orang pasti pernah berada di titik kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan. Ada masa ketika masalah datang bertubi-tubi, rencana tidak berjalan seperti yang diinginkan, atau sesuatu yang sudah diperjuangkan justru berakhir mengecewakan. Dalam keadaan seperti itu, cara seseorang memandang masalah ternyata sangat menentukan bagaimana ia melewati ujian tersebut.
Orang yang tidak bersabar biasanya hanya melihat masalah dari satu sisi. Ketika ujian datang, yang terlihat hanyalah kesulitan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal yang membuat hati merasa berat. Pikiran pun mudah dipenuhi keluhan. Masalah yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya akhirnya terasa semakin besar karena terus dipandang dari sisi negatif.
Baca Juga: Zainab Binti Al-Awwam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Islam di Keluarga Quraisy
Sabar, Syukur, dan Cara Pandang Saat Menghadapi Ujian
Begitu pula dengan orang yang kurang bersyukur. Ketika mendapatkan nikmat, perhatian justru tertuju pada sesuatu yang belum dimiliki. Sebanyak apa pun rezeki, ilmu, kesehatan, keluarga, atau kesempatan yang diberikan Allah, selalu ada kekurangan yang dianggap lebih penting. Akibatnya, hati sulit merasakan ketenangan karena terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Padahal, manusia sering kali lupa bahwa apa yang dianggap biasa hari ini sebenarnya merupakan nikmat yang sangat besar. Kesehatan, keluarga yang masih bersama, kesempatan untuk bekerja, makanan yang tersedia, bahkan kemampuan untuk bangun dan menjalani aktivitas setiap pagi merupakan karunia yang patut disyukuri.
Sebaliknya, orang yang berusaha bersabar dan bersyukur akan memiliki cara pandang yang berbeda ketika menghadapi kondisi sulit. Ia tidak berarti menganggap masalah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia tetap merasakan sedih, takut, kecewa, atau lelah. Namun, ia berusaha mencari hikmah di balik keadaan tersebut dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap proses yang dilalui.
Ujian juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi. Daripada terburu-buru mencari siapa yang harus disalahkan, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?” atau “Apa yang perlu saya perbaiki setelah melewati masalah ini?”
Sikap seperti itu membuat seseorang tidak mudah tenggelam dalam kemarahan. Ia belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Ada sesuatu yang harus diperjuangkan, tetapi ada pula yang harus diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan.
Karena itu, sabar dan syukur bukan sekadar ucapan di lisan. Keduanya merupakan cara untuk membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Ketika mendapat nikmat, bersyukurlah. Ketika menghadapi kesulitan, bersabarlah. Keduanya membantu hati tetap memiliki arah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, masalah yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda pada setiap orang. Ada yang melihatnya sebagai kegagalan, sementara yang lain melihatnya sebagai pelajaran. Ada yang hanya melihat kekurangan, sementara yang lain masih mampu menemukan nikmat yang tersisa.
Maka, ketika hidup terasa berat, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya keadaan di luar diri, tetapi juga cara kita memandangnya. Dengan kesabaran, rasa syukur, dan kemauan untuk terus introspeksi, setiap ujian dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal diri sendiri dan semakin dekat kepada Allah. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Nuzul Dzikri





