SERINGKALI kita salah memahami makna rezeki. Kenapa orang yang sholeh hidupnya miskin sedangkan orang yang banyak dosa malah hidupnya bergelimpang harta?
Rezeki itu bukan saja tentang harta meskipun harta juga bagian rezeki. Orang yang sholeh itu diberi rezeki yang terbaik bagi dirinya. Belum tentu harta benda itu adalah rezeki yang terbaik.
Malah sebaliknya jika Allah berikan harta yang banyak kesholehannya luntur ujungnya tidak baik bagi hamba-Nya. Bisa jadi rezeki terbaik menurut Allah bagi orang ini adalah kemudahan ia beribadah, kesehatan, anak-anak yang sholeh yang bisa menjadi amal jariahnya kelak.
Bagi hamba Allah yang sholeh lainnya bisa jadi Allah berikan kelapangan rezeki yang halal yang ia gunakan untuk bersedekah, membantu orang lain, menolong orang lain sehingga menjadikan dirinya ahli sedekah dan mengalir pahala yang tak pernah putus dari sedekah-sedekahnya.
Jadi saat kita menjadi hamba-Nya yang sholeh, pasti Allah memberikan rezeki yang terbaik bagi diri kita.
Kalau begitu, orang yang miskin akan selamanya jadi orang miskin dong.
Baca juga: Memahami Konsep Rezeki yang Benar
Memahami Makna Rezeki
Orang sholeh akan mendapatkan rezeki yang terbaik bagi dirinya, meskipun rezeki itu tidak berupa harta tapi diberi yang lain misalnya kemudahan beribadah, pemahaman ilmu agama, anak-anak yang sholeh atau mendapatkan rezeki dari yang halal.
Jika hamba yang Sholeh ini ingin rezeki berupa harta, maka pertama, ikuti hukum Allah bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita usahakan.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Rad: 11).
Allah memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya untuk mengubah takdir-Nya (termasuk kadar rezekinya) dan mendorong hamba-Nya untuk proaktif meraihnya.
Inilah rezeki yang diperoleh melalui hukum alam atau sunatullah. Rezeki ini masuk ke dalam takdir muallaq yakni takdir yang bisa berubah tergantung pada seberapa besar usaha manusia untuk mengubahnya.
Bekerja untuk mencari rezeki adalah sebuah perbuatan yang sangat dicintai Allah.
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla”. (HR. Ahmad).
Kedua, fokus atau niat khusus. Saat kita beribadah, selalu sisipkan niat khusus agar Allah memberikan rezeki berupa harta.
Misalnya saat berdoa, saat sujud dalam sholat minta diluaskan rezekinya, saat sedekah minta kepada Allah, dengan sedekah yang tidak seberapa ini mohon Allah meluaskan rezekinya lalu selalu berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah melapangkan rezekinya.
Satu lagi, orang yang bertaqwa itu akan selalu dijaga Allah, dijaga agar tidak terjerumus dari perbuatan dosa dan dijaga juga dari berbagai takdir buruk. Minimal jika ia mendapati takdir buruk, Allah segera memberikan solusinya.
Lalu kenapa orang yang banyak melakukan dosa malah bertambah kekayaannya. Ada orang yang tidak pernah sholat tapi selalu sehat dan umurnya panjang. Ada yang tidak pernah sedekah dan infaq tapi kekayaannya malah bertambah banyak. Itulah yang namanya istidraj.
Adakalanya orang yang melakukan keburukan, tidak mau melakukan hal yang baik malah diberi kekayaan, kesehatan, panjang umur, dikaruniai anak banyak dan kenikmatan lainnya. Itulah istidraj. Dilenakan dengan berbagai kenikmatan tapi sebenarnya ditenggelamkan ke jurang neraka yang lebih dalam lagi.
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44).
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad).[ind]