• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Rabu, 28 Januari, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Kepatuhan Abdullah bin Amr Patuh Pada Ayahnya Walau Hati Menolak

04/04/2025
in Khazanah, Unggulan
Kepatuhan Abdullah bin Amr Patuh Pada Ayahnya Walau Hati Menolak

Foto: Pixabay

126
SHARES
966
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

KEPATUHAN Abdullah bin Amr pada ayahnya walau hati menolak. Pada masa itu, Mu’awiyah di Syam menolak kekhalifahan Ali. Sebaliknya, Ali tidak akan membiarkan pembangkangan yang dilakukan tidak pada tempatnya.

Baca Juga: Nasihat Rasulullah pada Abdullah bin Amr bin Ash

Kepatuhan Abdullah bin Amr Patuh Pada Ayahnya Walau Hati Menolak

Maka, terjadilah perang antara dua kelompok kaum muslimin. Peperangan pertama, yaitu Perang Jamal, berlangsung kemudian usai.

Setelah itu dilanjutkan dengan Perang Shiffin. Saat itu, Amr bin Ash memilih berpihak kepada Mu’awiyah.

Amr mengetahui bahwa anaknya, Abdullah, sangat dihormati dan dipercaya oleh kaum muslimin.

Maka, ia bermaksud mengajak anaknya di barisan Mu’awiyah, karena akan sangat menguntungkan bagi pihak Mu’awiyah.

Selain itu, ia berharap banyak terhadap kepiawaian berperang Abdullah. la tahu kiprah anaknya pada peristiwa pembebasan wilayah Syam dan Perang Yarmuk.

Ketika Amr hendak berangkat ke Shiffin, ia memanggil Abdullah anaknya, dan berkata kepadanya, “Abdullah, bersiaplah untuk berangkat. Kamu akan ikut berperang di pihak kami.”

Abdullah menjawab, “itu tidak mungkin! Rasulullah telah berpesan kepadaku agar aku tidak membunuh sesama muslim.”

Dengan kecerdikannya, Amr terus berusaha meyakinkan anaknya.

Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

la menjelaskan bahwa keberangkatan ini bertujuan agar para pembunuh Utsman dijatuhi hukuman.

Amr mengeluarkan senjata pamungkasnya, “Abdullah, masih ingatkah kamu akan pesan Rasulullah ketika tanganmu ditaruh di atas tanganku. Beliau bersabda, ‘Taatilah ayahmu’? Sekarang, aku menyuruhmu berangkat dan berperang di pihak kami.

Abdullah berangkat demi ketaatannya kepada sang ayah. la bertekad untuk tidak ikut menghunus senjata dan tidak membunuh sesama muslim.

Akan tetapi, bagaimana caranya? Yang penting, ia sekarang sudah berangkat bersama ayahnya. Adapun jika perang sudah terjadi, maka Allah yang akan memutuskan apa yang akan terjadi.

Perang pun berkecamuk dengan sengitnya. Benar-benar sangat mencekam.

Para ahli sejarah berbeda pendapat, apakah Abdullah ikut bertempur di awal peperangan atau tidak?

Menurut kami, ia ikut berperang di awal pertempuran, karena beberapa saat setelah pertempuran dimulai, terjadilah peristiwa yang menjadikan Abdullah bin Amr mengambil sikap tegas dan terang-terangan menentang peperangan itu, serta menentang tindakan Mu’awiyah.

‘Ammar bin Yasir saat itu berperang di pihak Ali. Ammar sangat dihormati dan dimuliakan oleh para sahabat.

Lebih dari itu, sejak dahulu, Rasulullah mengabarkan kematiannya dan siapa pembunuhnya.

Ketika itu, Rasulullah bersama para sahabat sedang membangun Masjid Nabawi, tidak lama setelah kedatangan mereka di batu yang digunakan sebagai bahan bangunan ialah batu-batu berat, hingga orang yang terkuat pun hanya mampu mengangkat satu.

Namun, ‘Ammar—karena sangat gembira dan bersemai- mampu mengangkat dua batu sekaligus.

Rasulullah menyaksikan hal itu. Beliau terus memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca. Beliau bersabda, “Duhai putra Sumayah. la akan mati dibunuh oleh kelompok pembangkang.”

Para sahabat yang ikut dalam pembangunan masjid itu mendengar sabda Rasulullah ini dan masih tetap mengingatnya. Termasuk Abdullah bin Amr.

Di awal pertempuran antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah, Ammar naik ke tempat yang agak tinggi dan berseru, “Hari ini kita akan berjumpa orang-orang tercinta, yaitu Rasulullah dan para sahabatnya.

Beberapa orang dari kelompok Mu’awiyah sepakat untuk membunuhnya. Mereka membidikkan anak panah mereka dan berhasil mengangtarkan ‘Ammar ke dunia para syuhada, Berita terbunuhnya ‘Ammar menyebar sangat cepat Abdullah tercengang penuh kemarahan, “Apa? ‘Ammar terbunuh dan kalianlah pembunuhnya? Kalau begitu, kalianlah para pembangkang. Kalian berperang di jalan yang sesat.”

Abdullah berkeliling di antara pasukan Mu’awiyah, memberikan peringatan, mengendurkan semangat mereka, dan menyatakan bahwa mereka adalah para pembangkang karena telah membunuh ‘Ammar, di mana 27 tahun yang lalu, di hadapan para sahabat, Rasulullah telah mengabarkan bahwa ia akan dibunuh oleh para pembangkang.

Ucapan Abdullah itu disampaikan kepada Mu’awiyah. Maka, ia segera memanggil Amr dan anaknya (Abdullah).

Ia berkata kepada Amr, “Mengapa tidak kau bungkam anak gila ini?”

Abdullah menjawab, “Aku tidak gila. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda kepada ‘Ammar, ‘Kamu akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.”

Mu’awiyah berkata kepadanya, “Mengapa kamu berada di pihak kami?” Abdullah menjawab, “Karena Rasulullah menyuruhku patuh kepada ayah. Aku telah mematuhinya, tetapi aku tidak ikut berperang.

Di saat mereka sedang berbincang-bincang seperti itu, seseorang masuk-memintakah izin menghadap untuk laki-iaki pembunuh ‘Ammar.

Abdullah langsung berseru, “Izinkan dia masuk dan sampaikan kepadanya bahwa neraka menunggunya.”

Mu’awiyah tidak bisa menahan kemarahannya. la berkata kepada Amr, “Tidakkah kau dengar perkataannya?”

Sebaliknya, dengan tenang dan damai, begitulah sifat orang-orang yang bertakwa, Abdullah menegaskan kepada Mu’awiyah bahwa yang dikatakannya adalah benar dan orang yang membunuh Ammar adalah para pembangkang.

la menoleh kepada ayahnya dan berkata, “Seandainya Rasulullah tidak menyuruhku patuh kepada Ayah,’ pasti aku tidak mengikuti perjalanan ini.”

Mu’awiyah dan Amr keluar memeriksa pasukan. Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa semuanya membicarakan nubuwat Rasulullah terhadap Ammar, “Kamu akan dibunuh oleh kelompok pemberontak. ”

Amr dan Mu’awiyah merasakan bahwa desas-desus itu akan memicu pembangkangan terhadap Mu’awiyah.

Maka, mereka memikirkan suatu musilihat. Mereka mendapatkannya laiu melontarkannya kepada segenap pasukan.

Keduanya berkata, “Benar Rasulullah pernah mengatakan kepada ‘Ammar bahwa la akan dibunuh oleh kelompok pembangkang. Nubuwat Rasulullah itu benar dan buktinya sekarang ‘Ammar telah dibunuh,

Nah, siapakah sebenarnya yang telah membunuhnya? Pembunuhnya tidak lain adalah orang-orang yang mengajaknya ikut berperang.”

Dalam suasana kacau-balau ini, berbagai logika mudah diterima. Begitulah penjelasan Mu’awiyah dan Amr langsung diterima oleh para pengikutnya. Maka, pertempuran kembali dimulai.

Sedangkan Abdullah bin Amr kembali ke masjid dan ibadahnya. la mengisi hidupnya hanya dengan ibadah.

Akan tetapi, keterlibatannya di Perang Shiffin selalu membuatnya gundah. Setiap kali ia mengingatnya, ia langsung menangis, “Mengapa aku harus terlibat di Perang Shiffin? Mengapa aku harus terlibat dalam perang sesama kaum muslimin?”

[Cms/Sdz]

Sumber : Biografi 60 Sahabat Nabi, Penerbit Al Itihsom

Tags: Kepatuhan abdullah bin amr
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Pesan Seorang Ayah Kepada Putrinya

Next Post

Bepergian adalah Sebagian dari Azab

Next Post
Teman Seperjalanan seperti Ibn Bathutah

Bepergian adalah Sebagian dari Azab

Kun Anta: Cantik dari Hati Cantik Jadi Diri Sendiri

Kun Anta: Cantik dari Hati Cantik Jadi Diri Sendiri

Memantaskan Diri Bertemu Syahrut Tarbiyah

Keberhasilan Ramadan Versi Ninin Kholida

  • Ngargoyoso Waterfall jadi Salah Satu Destinasi Wisata Terfavorit di Kota Solo, Jawa Tengah

    Ngargoyoso Waterfall jadi Salah Satu Destinasi Wisata Terfavorit di Kota Solo, Jawa Tengah

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • Leshia Tivana Billar Rayakan Ulang Tahun Pertamanya dengan Outfit Serba Putih

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Hadis tentang Lima Malam saat Doa Tidak Tertolak

    479 shares
    Share 192 Tweet 120
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    7897 shares
    Share 3159 Tweet 1974
  • Ayo Less Waste Bersama PNH Menyalurkan Bibit Pohon di Yogyakarta dalam Upaya Cegah Bencana Ekologis Berulang

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3431 shares
    Share 1372 Tweet 858
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4093 shares
    Share 1637 Tweet 1023
  • Terjemahan Hadits Arbain Pertama Lengkap dengan Huruf Latin

    5267 shares
    Share 2107 Tweet 1317
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    1679 shares
    Share 672 Tweet 420
  • Ketika Presiden Korea Selatan ‘Mengamalkan’ Al-Qur’an

    176 shares
    Share 70 Tweet 44
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga