SALAMATUSH shadr. Putraku berangkat sekolah, sebelumnya ingin dibuatkan nasi goreng si mbak, nasi goreng kampung istilahnya, dengan kecap sedikit dan bawang merah dan irisan cabe merah, telur dadar yang diaduk dalam nasinya dan sedikit ebi sebagai penyedap.
Aku menawarkan nasi goreng buatanku, katanya kemanisan, yaa memang aku suka manis biasanya kecapnya banyak dan tambah saus barbeque pula dan mentega. Nasi goreng buatanku bahannya premium, kadang aku kasih tambahan irisan sosis dari daging wagyu.
Wah kalau dijual mungkin nasi goreng buatanku lebih mahal dari si mbak. Tapi anakku tetap memilih nasi goreng mbak yang lebih simple?
Apakah aku marah? Tentu saja ada sedikit kecewa tapi aku me-release dengan meminta orang lain membuatkan nasi goreng tipe ke-3, tipe yang tidak sama dengan si mbak dan tidak sama dengan nasi gorengku. Nasi goreng aduk-aduk, suka-suka, dan enggak tahu dimasukin apa ke dalamnya, dimasak tiba-tiba dengan tidak confidence.
Pertanyaannya adalah:
Dalam hal ini, siapa yang menjadi pemenang??
Ini type literacy dari kurikulum merdeka yang dicanangkan Pak Nadiem. Orang disuruh mikir. Dan jawabannya enggak mesti A atau B, inilah yang dinamakan Kurikulum Merdeka.
Saya teruskan yaa.
Lalu saya mengatakan kepada putraku, kamu harus belajar untuk memiliki jiwa yang lapang, yaitu salamatush shadr. Tidak semua yang kamu inginkan terjadi dan tidak semua yang kamu inginkan kamu dapatkan.
baca juga: Makam Mulia Dulunya Adalah Rumah Aisyah
Salamatush Shadr
Adalah Siti Aisyah yang merelakan kamarnya dimasuki Umar bin Khattab ra.
Ketika Umar bin Khattab sakaratul maut, beliau meminta kepada anaknya untuk meminta izin kepada Aisyah ra agar diperbolehkan dikubur di sebelah Rasulullah dan Abu Bakar ra. Di sebelah kawan-kawan karibnya.
Sejenak Aisyah ra merenung. “Aku sendiri ingin ketika meninggal dimakamkan di antara kedua orang terkasihku. Di dalam kamarku sendiri di Raudhoh. Di tengah-tengah antara suamiku dan ayahku.”
Tapi beliau akhirnya dengan lapang dada memberikan izin kepada Abdullah bin Umar untuk nantinya Umar Bin Khattab ra disemayamkan di tempat yang semestinya menjadi tempat peristirahatan terakhir Aisyah.
Yang hikmahnya kemudian kita lihat bahwa kalau kita ke Raudhoh di Madinah, maka yang lelaki di sebelah sana, yang perempuan di sebelah sini dan tak elok bila jamaah lelaki berziarah lalu ada Aisyahnya di situ. Maka jamaah yang perempuan pasti ingin ke situ juga dengan alasan ingin ziarah ke Aisyah.
Pasti akan semrawut.
Bahkan hebatnya sampai sekarang kita malah tak tahu (aku khususnya) malah tak tahu di mana makam Aisyah ra yang sesungguhnya.
Di sini aku merenung dan mengajak putraku merenung juga, betapa Salamatush shodr (lapang dada) itu penting.
Dan sejak membaca kisah itu di dalam buku ‘Di Balik Hari Kematian‘ Imam Ghazali, aku jadi lebih mengenal karakter Bunda Aisyah ra.
Lalu aku pun mengizinkan mbak untuk 3 kali sepekan memasak nasi goreng kesukaan anakku, nasi goreng kampung yang lebih gurih di lidah.
Dan akupun jadi juga memiliki salamatush shodr, lapang dada dan bersikap easy going saja atau bahasa jawanya ‘woles‘ ajah .. ketika akhirnya aku enggak lagi masak nasi goreng saus barbeque dengan irisan daging wagyu dan lelehan mentega bercampur kecap dalam nasi goreng yang harum.
Hmm mungkin nanti untuk cucuku yang ke-9
Itupun kalau aku masih punya tenaga ..
So, salamatush shodr (lapang dada/jiwa besar) itu walau berat, effective untuk menyembuhkan luka ego, luka kecewa dan luka merasa tidak dibutuhkan, merasa tidak diperhatikan, dan luka-luka lainnya yang kalau difikirkan terus kita akan jadi orang baperan. Merasa ditolak, merasa tidak dihargai ..
Dan aku harus belajar untuk walaupun sudah berusaha untuk “act of service” gila-gilaan, oneday harus mau untuk ditolak, dicuekin semua orang, dan mungkin tidak dihargai sama sekali.
@suatu pagi di pinggir kota Perth.
𝑩𝒚: 𝑴𝒂𝒎 𝑭𝒊𝒇𝒊
Owner & Conceptor of
Jakarta Islamic School
(JISc/JIBBS/JIGSc)
“𝗠𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗜𝗯𝘂”
www.jakartaislamicschool.com
+62 813-8664-4108





