SAYA pribadi: tidak setuju dengan pengadaan beasiswa sampai milyaran untuk satu orang. Kebanyakan penerima beasiswa ini orang yang sangat cerdas secara akademik.
Maksud saya ketika kembali ke negeri Indonesia. Karena kecerdasan di atas rata-rata dan terbiasa dengan lab yang luar biasa, maka jadi bingung untuk mengerjakan sesuatu tanpa fasilitas yang luarbiasa.
Ini kejadian pada one of my family, ketika kembali ke Indonesia sibuk mengutuk instansi tempat dia ngabdi. Karena serba terbatas.
Jadi tidak creative.
Cenderung diam
Dan bahkan sibuk menyalahkan kondisi di Indonesia.
Jadi memberi beasiswa untuk pribadi yang belum matang secara soft skill and life skill itu sama saja menciptakan orang-orang tersayang yang akan membandingkan kondisi di luar negeri dengan dalam negeri dan mungkin mereka ketika sudah lulus akan frustrasi dengan fasilitas negeri yang biasa-biasa saja.
Apa tujuan beasiswa?
Harus diteliti kembali, dibahas kembali.
Dengan uang 2-3 Milyar (including biaya hidup full dll di luar negeri), maka lebih baik dibelikan buku agar semua anak gemar membaca dan berfikir kritis dan creative.
Misal ibaratnya uang Satu M untuk beasiswa satu orang keluar negeri – lebih baik belikan buku untuk satu kampung.
Wallahu ‘alam
Beasiswa Milyaran
Lagi mikir.
Saya sendiri tidak pernah dapat beasiswa dari kecil sampai kuliah. Semua dari kantung orangtua saya yang cuma wakil asisten mentri zaman Bapak Murdiono dulu (Bina Graha Sekneg). Pegawai negeri tanpa korupsi.
Tapi banyak membaca buku dan berinovasi dan terbiasa creative karena keterbatasan dana dan fasilitas akhirnya membuat saya lebih survive dan selalu berfikir untuk bahagia tanpa mencela – Alhamdulillah dengan izin Allah, maka saya pun dimampukan menjadi orang yg mampu menciptakan lapangan kerja bagi ratusan karyawan dan termasuk penyumbang pajak sampai milyaran lho ke negara. (Kipas-kipas dan saya ikhlas walau berat hehe).
Dan saya enggak pernah dapat beasiswa dari negara.
Jadi what for beasiswa sampai milyaran untuk satu orang bila lulus pun walau balik ke negara sendiri pun – kontribusi secara social kurang kepada masyarakat.
Gimana yaa ngomongnya ..
intinya beasiswa keluar negeri ditelaah kembali deh.
Perlu enggak?
Hasilnya apa??
Memajukan negara enggak??
Wallahu ‘alam
Baca juga: Indonesia Siapkan Lima Ribu Kuota Beasiswa LPDP Tahun 2026 untuk Program S1 hingga S3
Tapi as info, finally setelah bertungkus lumus (lintang pukang) dalam mendirikan sekolah dari modal nol hingga punya beberapa gedung sendiri.
Saya dapat juga beasiswa dari Amerika untuk S-3 saya tapi hanya 1/3. Ini kisah nyata.
Yaa begitulah
Mendingan minta beasiswa dari negeri lain untuk berkontribusi di negeri sendiri
Ini pendapat saya.
Berbeda bukan berarti salah
# to juragan medsos/mohon bikin news jangan soal pembunuhan terus dong. Kasian pembaca otaknya jadi makan yang horor-horor.
Bacaan itu adalah salah satu obat cuci otak. Hati-hati dengan apa yang kita baca.
Sekali lagi my opinion.
Berbeda bukan berarti salah.
FB Fifi Proklawati Jubilea





