KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi global bersama WHO dan jejaring kesehatan internasional, merespons penetapan Ebola sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan di Kongo.
Dikutip dari berbagai sumber, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan pada 17 Mei 2026 WHO menetapkan outbreak Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) sebagai situasi kedaruratan kesehatan.
Penetapan ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dan koordinasi di tingkat global, namun belum termasuk kategori pandemi.
“Penetapan dilakukan karena adanya penyebaran lintas wilayah dan lintas negara, tingginya tingkat kematian, serta masih adanya ketidakpastian kondisi dan luas penyebaran wabah,” kata Aji.
Baca juga: Beberapa Ahli Waspadai Tiga Virus yang bisa jadi Ancaman Wabah Global Baru
Kemenkes Pantau Perkembangan Penyakit Ebola dalam Situasi Global
Wabah terjadi di Provinsi Ituri, RD Kongo, dengan laporan hingga 16 Mei 2026 sebanyak 246 kasus suspek, termasuk delapan kasus konfirmasi dan 80 kematian (CFR 32,5 persen). Virus yang teridentifikasi adalah Bundibugyo virus, salah satu jenis virus Ebola.
“Selain di RD Kongo, dilaporkan juga kasus terkait perjalanan (impor dari Kongo) di Kampala, Uganda, dan Kinshasa. WHO menilai kondisi keamanan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak meningkatkan risiko penyebaran regional,” ucapnya.
Kemenkes Kongo, Uganda, dan WHO, kata dia, telah melakukan respons cepat penanganan antara lain dengan pengerahan tim ahli, pengaktifan pusat operasi darurat, pelaksanaan surveilans, distribusi obat dan alkes, serta komunikasi risiko.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Gejala Ebola dapat muncul mendadak, antara lain demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, yang dapat disertai muntah, diare, hingga perdarahan. Masa inkubasi virusnya berkisar antara 2–21 hari.
Hingga saat ini belum terdapat pengobatan spesifik yang tersedia luas, sehingga penanganan terutama berupa perawatan suportif intensif. Vaksin yang tersedia juga terbatas digunakan untuk penanganan wabah di Afrika.
Oleh karena itu penguatan kewaspadaan dengan lintas sektor dan program meliputi surveilans penyakit, koordinasi dengan fasilitas kesehatan dan pintu masuk negara, serta kesiapan deteksi dan respons apabila ditemukan kasus suspek.
Pihaknya juga menyiapkan komunikasi risiko dan edukasi kepada masyarakat agar informasi yang diterima tetap akurat dan mampu laksana. Informasi dapat diakses melalui: https://s.kemkes.go.id/INFOEBOLA
“Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada. Ikuti perkembangan kasus global dan nasional melalui berbagai media. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan pakai air dan sabun, menggunakan masker bila sakit, menerapkan etika bersin dan batuk,” kata Aji. [Din]





