API itu panas dan membakar. Tapi untuk Nabi Ibrahim alaihissalam, api dingin dan menyejukkan.
Nabi Allah utus untuk mendakwahi kaum yang zalim. Nabi mengajarkan bagaimana menyembah Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.
Di antara para Nabi itu, ada Nabi Ibrahim alaihissalam. Kerajaan di masa Nabi Ibrahim adalah Babilonia. Rajanya bernama Namrud. Sungguh pun menjadi negara adidaya, mereka masih menyembah berhala.
Di saat Raja dan para punggawanya pergi berburu, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala yang ada. Ada satu patung yang beliau sisakan.
Sepulangnya di istana, Raja dan punggawa marah besar: “Siapa yang berani menghancurkan berhala-berhala yang mereka sucikan?”
Tuduhan pun mengarah ke Nabi Ibrahim. Ayah dari Nabi Ismail dan Nabi Ishak ini pun ditangkap. Ia dihadapkan ke raja.
“Siapa yang menghancurkan patung-patung sesambahan kami?” tanya Raja kepada Nabi Ibrahim.
Dengan enteng ayah dari para Nabi dan Rasul ini menjawab, “Tanyakan saja pada berhala yang masih utuh itu?”
Sebuah kalimat sederhana, tapi menjatuhkan dalil mereka semua. Kalau ditanya saja tidak pantas karena itu hanya sebuah patung, bagaimana mungkin berhala pantas disembah?
Semua terdiam dengan kalimat pamungkas Nabi Ibrahim itu. Tapi, Raja langsung marah. “Bakar dia!” perintahnya.
Nabi Ibrahim pun diikat di tengah kayu-kayu sebagai bahan bakar api. Ketika api mulai membakar, Allah berfirman kepada api: wahai api, jadilah dingin dan keselamatan untuk Ibrahim. (Al-Anbiya: 69)
Meski terlihat api membakar, tapi Nabi Ibrahim tidak seperti berada di tengah-tengah api. Jangankan tubuhnya, sehelai benang dari bajunya pun tak ada yang terbakar.
**
Api itu alamiahnya panas dan membakar. Tapi tidak demikian untuk hamba Allah yang dicintai-Nya: Nabi Ibrahim alaihissalam.
Begitu pun untuk hamba-hamba Allah yang Allah cintai hingga zaman saat ini. Mereka hidup di masa krisis, ketidakadilan, kezaliman, dan hal yang menyiksa lainnya.
Namun, Allah menjadikan semua itu bagaikan api yang membakar Nabi Ibrahim, terlihat menyiksa tapi terasa ‘sejuk’ dan nyaman.
Tetaplah selalu istiqamah di jalan Allah, bagaimana pun buruknya lingkungan kita. Jadikan sabar dan shalat sebagai media kedekatan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. [Mh]





