LONDO ireng menjadi istilah yang viral di pekan ini. Apa sih arti londo ireng? Kenapa bisa menjadi seheboh itu?
Istilah londo ireng tiba-tiba menjadi viral di pekan ini. Hal itu setelah presiden menyebut istilah londo ireng dalam sebuah pidatonya.
Apa itu londo ireng?
Secara bahasa, londo ireng merupakan ungkapan dari bahasa Jawa. Artinya, Belanda hitam. Atau, tentara Belanda yang sosoknya tidak seperti orang Eropa: yang bule, tinggi, mancung, dan lainnya. Londo ireng itu seperti kebalikannya.
Hal ini wajar. Karena londo ireng adalah tentara Belanda yang direkrut dari orang pribumi asli Indonesia. Jadi, Belanda merekrut, memberikan seragam dan senjata, menggaji, dan memberikan pangkat kepada orang-orang pribumi layaknya seperti tentara.
Secara kesatuan, mereka disebut sebagai KNIL, dibentuk sejak tahun 1830.
Apa orang pribumi di masa itu mau jadi tentara Belanda?
Karena himpitan ekonomi, banyak pemuda pribumi yang ‘antri’ mendaftar menjadi KNIL atau londo ireng. Mereka tega berhadap-hadapan dengan bangsa sendiri karena ekonomi itu. Meskipun, tidak sedikit yang memang punya loyalitas tinggi dengan Belanda daripada bangsanya sendiri.
Jangan bayangkan kesadaran berbangsa saat itu sama dengan saat ini. Saat itu, Indonesia belum ada. Yang ada saat itu: suku, kerajaan, umat beragama, dan etnis.
Nah, Belanda paling jago mengadu semua perbedaan itu untuk dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Toh, yang rusak dan hancur orang pribumi sendiri. Bukan Belanda.
Sebagai ilustrasi, menjelang proklamasi kemerdekaan, orang yang mau dengan sukarela menghadiri deklarasi kemerdekaan hanya ratusan orang saja. Sementara satu tahun setelahnya: tahun 1946, ketika Belanda akan menghidupkan lagi KNIL, yang daftar puluhan ribu orang.
Strategi Jahat Belanda
Belanda tidak berperang dengan rakyat Indonesia dengan tentara aslinya. Melainkan, dengan merekrut pemuda pribumi atau KNIL itu sebagai tentara bayaran.
Menariknya, jumlah KNIL yang direkrut Belanda jauh lebih besar dari jumlah tentara asli negaranya. Bahkan sampai 70 persen dari total tentara yang mereka miliki.
Para tentara KNIL ini dilatih dengan tujuan yang satu: bisa lebih sadis dan kejam dari tentara Belanda sendiri. Mereka ditempatkan di front-front terdepan untuk mengamankan kekuasaannya di Indonesia.
Umumnya, yang mereka lawan adalah pejuang Indonesia yang berasal dari pergerakan Islam. Misalnya, perlawanan rakyat Aceh, Imam Bonjol di Sumatera Barat dan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah.
Khusus untuk melawan gerakan Diponegoro, bahkan Belanda mengerahkan KNIL dari luar pulau Jawa. Antara lain dari Sumatera Barat dan Minahasa. Hal ini karena perlawanan oleh Diponegoro begitu dahsyat dirasakan oleh Belanda.
Salah satu perwira KNIL dari Minahasa yang dicatat dalam sejarah adalah Major Benjamin Sigar. Pasukannya jauh lebih kejam dari pasukan asli Belanda sendiri.
Penjajah Jepang Meniru KNIL Belanda
Pada tahun 1942, sekutu termasuk Belanda berhasil dikalahkan Jepang. Dari kekalahan ini, Jepang akhirnya mengambil alih penjajahan di Indonesia.
Penjajah Jepang menyadari bahwa mereka tak akan mampu mengimbangi jumlah penduduk Indonesia dan sebaran luas wilayah yang begitu besar. Akhirnya, mereka pun meniru strategi Belanda.
Kali ini, Jepang membentuk satuan pasukan pribumi yang disebut dengan PETA. Jepang memposisikan diri sebagai pelindung Indonesia dari penjajah Belanda dan menyiapkan pasukan pribumi untuk melawan Belanda dengan satuan PETA itu.
Namun berbeda dengan KNIL, PETA lebih minim senjata. Mereka lebih banyak disiapkan sebagai pasukan ‘pagar betis’ yang hanya dipersenjatai dengan bambu runcing atau sajam lainnya.
Boleh jadi, Jepang khawatir kalau PETA bisa berbalik menjadi musuh mereka.
Akhirnya, pada tahun 1945, Jepang kalah dengan sekutu dan Indonesia akan dikembalikan dari Jepang ke sekutu, termasuk Belanda.
Nah, di sinilah Belanda kembali menghidupkan KNIL. Ketika relawan yang ikut meramaikan deklarasi kemerdekaan tidak sampai seribu orang, tapi ketika Belanda kembali merekrut KNIL yang daftar puluhan ribu orang.
Perang pun kembali berkecamuk antara pemuda Indonesia dengan sekutu di seluruh tanah air. Hal ini terjadi sampai tiga tahun.
Akhirnya, dalam perjanjian yag disaksikan dunia internasional, Belanda mensyaratkan kemerdekaan Indonesia yang dideklarasikan sejak empat tahun lalu.
Salah satu syarat Belanda adalah seluruh KNIL ‘produk’ Belanda harus dimasukkan kedalam tentara resmi Indonesia. Jumlah mereka bisa mencapai puluhan ribu orang.
Syarat inilah yang akhirnya menjadi ‘duri dalam daging’ dalam tentara Indonesia. Begitu banyak konflik internal yang terjadi. Di antaranya, G 30/S/PKI.
Salah satu mantan anggota KNIL yang sukses menjadi jenderal dan menjadi presiden selama 32 tahun adalah Soeharto.
Jadi, londo ireng lebih banyak sebagai istilah negatif daripada positif. Dan hingga kini, hal itu tetap menjadi ‘duri dalam daging’ dalam NKRI. [Mh]


