QARRAR Firhand sebagai pebalap muda Indonesia yang dikenal karena menjaga salat saat berada di manapun.
Pebalap muda Indonesia, Qarrar Firhand, tak hanya dikenal karena kiprahnya di lintasan balap internasional. Di tengah kesibukan mengikuti berbagai kompetisi di Eropa, Qarrar tetap berusaha menjaga ibadahnya, terutama salat lima waktu.
Bagi Qarrar, menjalankan salat merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan, termasuk ketika dirinya sedang berada di sirkuit dan menjalani jadwal balapan yang padat.
“Lagi balap pasti salat, selalu lima waktu paling penting. Kan tim ada truk, biasanya salatnya di truk itu,” ujar Qarrar dalam sebuah unggahan media sosial.
Ia mengaku mendapat dukungan dari orang-orang di dalam tim ketika hendak menjalankan ibadah. Qarrar bahkan terbiasa meminta izin kepada atasannya untuk menggunakan tempat tertentu sebagai ruang salat.
Qarrar Firhand Tetap Jaga Salat Lima Waktu di Tengah Ketatnya Persaingan Balap di Eropa
“Aku ngomong ke bosnya, boleh nggak pakai di sini sebentar, mau salat sebentar. Dikasih. Nanti ada orang yang kasih tahu, jangan ke sini dulu, dia lagi salat. Mereka supportive banget,” tuturnya.
Tak hanya menjaga salat, Qarrar juga memiliki kebiasaan sederhana yang terus dilakukannya setiap malam, yakni membaca Al-Qur’an. Ia memilih untuk membaca satu halaman setiap malam sebagai bagian dari rutinitasnya.
“Ada ritual yang selalu aku buat tuh, setiap malam baca satu halaman Al-Qur’an, satu halaman aja tapi setiap malam,” katanya.
Berada dan berkompetisi di Eropa juga menjadi pengalaman yang membuat Qarrar semakin bangga menjalankan identitasnya sebagai seorang Muslim. Menurutnya, keberadaan dirinya sebagai pebalap Muslim Indonesia di tengah lingkungan internasional menjadi pengalaman yang sangat berarti.
“Beneran bangga banget bisa jadi Muslim di sana (Eropa),” ungkap Qarrar.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Lebih jauh, Qarrar menilai perjalanan kariernya hingga dapat berkompetisi di level internasional tidak terlepas dari pertolongan Allah. Di balik kerja keras, latihan, dukungan tim, dan berbagai proses yang dijalaninya, ia meyakini bahwa Allah menjadi sosok yang paling utama dalam perjalanan tersebut.
“Dalam perjalanan ini yang paling bantu dibanding semua orang pasti Allah. Tanpa Allah semuanya nggak bisa kesampaian,” tegasnya.
Kisah Qarrar menunjukkan bahwa mengejar prestasi di dunia olahraga tidak harus membuat seseorang meninggalkan nilai-nilai yang diyakininya.
Di tengah tekanan kompetisi dan kehidupan sebagai pebalap muda di luar negeri, ia berusaha menjadikan salat dan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari kesehariannya.
Bagi Qarrar, prestasi di lintasan dan keteguhan menjalankan ibadah dapat berjalan beriringan. Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang pebalap muda Indonesia yang terus membawa nama bangsa sekaligus identitasnya sebagai seorang Muslim di kancah internasional. [Din]


