RIYA menjadi salah satu perkara yang sangat ditakuti oleh orang-orang saleh terdahulu. Bukan karena mereka tidak ingin berbuat baik, tetapi justru karena mereka memahami bahwa amal yang terlihat baik di hadapan manusia belum tentu bernilai jika niat di dalam hati berubah. Bagi mereka, menjaga keikhlasan sama pentingnya dengan memperbanyak amal.
Salah satu cara yang dilakukan adalah menyembunyikan amal. Mereka berusaha merahasiakan ibadah sebagaimana seseorang menyembunyikan aibnya. Tidak semua kebaikan perlu diketahui orang lain. Ada ibadah yang cukup menjadi hubungan pribadi antara seorang hamba dengan Allah.
Baca Juga: Ini Dia 5 Rekomendasi Kuliner di Banyumas
Cara Orang Saleh Dahulu Menjaga Hati dari Riya
Ketika mendapatkan pujian setelah beramal, mereka juga tidak serta-merta merasa senang. Pujian justru bisa menjadi pengingat agar hati tetap waspada. Mereka khawatir amal yang semula dilakukan karena Allah perlahan berubah menjadi keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia.
Karena itu, orang saleh terdahulu tidak terbiasa membicarakan amal yang telah mereka lakukan. Mereka tidak merasa perlu menceritakan berapa banyak shalat malam yang dikerjakan, berapa banyak sedekah yang diberikan, atau ibadah apa saja yang dilakukan. Sebab, tujuan utama mereka bukan mendapatkan pandangan manusia, melainkan mencari ridha Allah.
Mereka juga memiliki amal-amal yang hanya diketahui oleh Allah. Bisa berupa tangisan dalam kesunyian malam, sedekah yang tidak diketahui siapa pun, doa yang dipanjatkan dalam diam, atau kebaikan kecil yang sengaja dirahasiakan. Amal tersembunyi seperti itu menjadi cara untuk menjaga hati agar tetap dekat dengan keikhlasan.
Menariknya, semakin mengenal Allah, mereka justru semakin merasa amalnya masih sedikit. Banyaknya ibadah tidak membuat mereka mudah merasa sebagai orang baik. Mereka lebih sibuk melihat kekurangan diri daripada menghitung kebaikan yang telah dilakukan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain itu, mereka tidak hanya takut melakukan dosa. Mereka juga khawatir amal yang sudah dikerjakan menjadi sia-sia karena tercampur dengan riya. Karena itu, doa dan introspeksi menjadi bagian penting dalam menjaga hati setelah beramal.
Pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh terdahulu mengingatkan bahwa amal bukan tentang siapa yang melihat, melainkan siapa yang menjadi tujuan. Mereka tidak takut ketika kebaikannya tidak diketahui manusia. Justru yang paling mereka khawatirkan adalah ketika amal yang terlihat oleh banyak orang ternyata tidak diterima oleh Allah.
Maka, ketika berbuat baik, tidak ada salahnya sesekali bertanya kepada diri sendiri, “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat agar hati tetap kembali kepada Allah dan tidak terjebak dalam keinginan untuk dipuji manusia. [DW]
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





