SALAH satu catatan yang muncul dari dampak serangan yang dialami rakyat Iran adalah telatnya ungkapan duka dan keprihatinan dari saudara mereka di Indonesia.
Apa yang dialami rakyat Iran saat ini tidak berbeda jauh dengan apa yang juga dialami rakyat Palestina. Keduanya menjadi korban dari kejahatan kemanusiaan oleh penjajah. Hal yang juga pernah dialami bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda.
Pertanyaannya, kenapa ungkapan duka dan keprihatinan itu datangnya begitu ‘kaku’ dan tersendat? Biasanya bangsa ini begitu cepat bereaksi, terlebih terhadap negara yang sama-sama mayoritas beragama Islam.
Dugaan sumber hambatan itu bisa datang dari dua hal. Dugaan pertama, karena adanya ‘ketakutan’ terhadap penjajah yang menyerang. Khawatir kalau-kalau kita akan bernasib sama. Hal ini karena mereka begitu sadis dan bisa menyerang negara mana saja yang tidak disukai.
Kedua, boleh jadi karena adanya sekat keagamaan. Yaitu, adanya sekat antara Sunni dan Syiah.
Seperti diketahui bahwa Sunni dan Syiah merupakan dua kekuatan besar umat Islam di dunia saat ini. Tapi keduanya seperti berada di dunia yang berbeda. Pihak di luar Islam juga seperti merasa diuntungkan dengan keadaan ini.
Konflik di Palestina seperti mempertemukan dua dunia Islam itu. Yaitu, sama-sama sedang menghadapi musuh yang sama: Zionis Israel.
Bisa dibilang, tidak banyak yang cepat sadar dengan potensi bersatunya dua kekuatan itu. Mungkin Hamas telah mendahului kesadaran itu. Banyak pihak pun yang menilai kalau Hamas merupakan bagian dari proksi Iran.
Para ulama Sunni di Mesir bahkan telah meluruskan gap itu. Di antara mereka ada Syaikh Ahmad Thayib dan Syaikh Ali Jum’ah. Menurut mereka, Syiah tak ubahnya sebagai mazhab dari sekian banyak mazhab Islam di dunia.
Penjelasan bijak ini berusaha untuk mendekatkan dua kelompok Islam itu untuk bisa saling memahami dan memaklumi satu sama lain.
Begitu pun yang dilakukan ulama Syiah. Sebelumnya beredar di media sosial, Sayyid Ali Khamanei rahimahullah juga telah mewanti-wanti jajarannya untuk memahami bahwa Islam itu satu umat. Jangan ada perasaan saling berbeda. Apalagi bermusuhan.
Iran tampaknya sudah memberikan bukti dari ittikad baik itu. Yaitu, dengan mendukung penuh perjuangan bersenjata rakyat Palestina, termasuk Hamas di Gaza.
Saat ini, memang bukan saatnya untuk mengulik-ulik luka lama tentang siapa kita dan siapa mereka. Yang ada di depan mata umat Islam dunia saat ini adalah musuh besarnya satu dan terus melakukan kejahatan kemanusiaan.
Tampaknya, inilah momen saatnya umat Islam sedunia bersatu. Jangan lihat lagi bendera masing-masing kelompok, atau luka lama yang terus dikompori musuh untuk tetap menganga.
Setidaknya, untuk cepat dan tulus mengungkapkan rasa duka dan keprihatinan yang saat ini sedang dialami rakyat Iran. Sebagaimana, kita semua mengungkapkan hal itu kepada rakyat Palestina. [Mh]


