Dubes AS untuk Israel, Mike Huckabee tiba-tiba bikin heboh dunia Islam. Politisi yang juga pastor ini menganggap wajar Israel menguasai tanah Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara, Duta Besar Amerika untuk Israel, Mike Huckabee menganggap bahwa Israel berhak atas tanah di Timur Tengah. Hal itu menurutnya sesuai dengan isi Alkitab yang ia pahami.
“Tak masalah mereka (Israel) mengambil semuanya,” ucapnya dalam sebuah podcast yang kemudian dilansir Al-Jazeera, Jumat (20/2).
Wilayah yang dimaksud Huckabee seperti yang tercantum dalam Alkitab adalah mulai dari sungai Nil hingga sungai Efrat. Ini berarti mencaplok wilayah Suriah, Lebanon, Yordania, Mesir, dan sebagian Arab Saudi.
Pernyataan Huckabee ini menyulut reaksi keras dari semua negara Arab. Kemenlu Indonesia pun ikut bereaksi keras atas pernyataan ini. Pernyataan yang seperti diskenariokan ini sontak membangun ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Siapa Huckabee
Mike Huckabee adalah pastor yang juga politisi. Ia berasal dari Partai Republik yang satu partai dengan Trump.
Pria kelahiran 1955 di Arkansas ini bahkan pernah menjabat gubernur di wilayah itu. Ia pernah mencalonkan sebagai presiden AS tapi gagal.
Kini, ia menjabat Dubes AS untuk Israel sejak Trump menjabat sejak Januari 2025 lalu.
Huckabee dan ‘Kartu Mainan’ Israel
Lontaran panas Huckabee seperti menyiram bensin di tengah suasana panas di Timteng. Pasalnya, lontaran itu justru ketika anggota BoP buatan Trump sedang terhipnotis dengan sandiwara Trump meneduhkan Palestina.
Dengan kata lain, ini merupakan tekanan kesekian kalinya oleh Israel ke Trump setelah serangan brutalnya di Gaza beberapa hari lalu. Dengan lontaran ini, Israel seperti ingin mengungkapkan kepada dunia siapa Trump sebenarnya.
Kesal dengan Trump yang Tak Kunjung Serang Iran
Emosi Israel terhadap Trump sepertinya tak kunjung usai. Mulai dari mempermalukan BoP dengan serangan brutal, membongkar File Epstein yang di situ ada nama Trump terlibat, hingga lontaran ‘jujur’ Huckabee ini.
Dunia tentu tidak melihat sosok Huckabee sebagai individu atau politisi. Tapi, sebagai juru bicara dari Pemeritah AS atau Trump.
Dengan lontaran ini, Trumplah yang paling terpukul. Pesan dari Israel ini begitu menekan Trump dan seolah mengatakan, “Jangan percaya Trump, karena BoP hanya sandiwara!”
Tak Kunjung Serang Iran
Inilah sebab utamanya. Israel begitu emosi karena Trump hingga kini seperti mempermainkannya dengan tidak kunjung menyerang Iran.
Dua pekan terakhir ini memang menunjukkan bagaimana Trump mengulur-ulur tuntutan Israel itu. Mulai dari pernyataan Trump yang katanya Iran sudah siap bernegosiasi, tekad serangan di akhir pekan ini yang juga batal, hingga janji Trump berikutnya yang akan menyerang Iran pada Selasa lusa.
Israel dan Trump memang seperti berseberangan tentang Iran. Bagi Israel, Iran adalah satu-satunya penghalang utama obsesi jahatnya untuk menguasai Palestina seluruhnya. Boleh jadi, Israel dendam dengan serangan Iran pada Juni lalu. Dan satu lagi, ada kemungkinan banyak agen Mossad yang kini ‘tersiksa’ dalam jeruji Iran pasca skenario rusuh yang gagal.
Tapi bagi Trump dan AS, serangan terhadap Iran akan menghancurkan ‘ladang duitnya’ di kawasan Timur Tengah. Terutama dari sektor minyak dan penguasaan keamanan di kawasan itu.
Para analis menilai bahwa tanpa transaksi minyak dengan dolar AS yang selama ini dilakukan negara-negara teluk, dolar AS sudah babak belur. Belum lagi jatah ‘keamanan’ yang selama sangat dinikmati AS di kawasan itu.
Pertanyaannya, akankah Trump akan terus mengulur-ulur janji serangannya terhadap Iran seperti yang diinginkan Israel? Jika ini yang terjadi, tidak tertutup kemungkinan Trump akan terguling di ‘tengah jalan’.
Meskipun upaya serius sudah diperlihatkan Trump. Antara lain, memindahkan aset militer dan ribuan prajurit di kawasan sekitar teluk, dan mendatangkan kapal induk baru di laut Mediterania.
Satu lagi, Trump terus membujuk Rusia agar tak ikutan bantu Iran. Hal ini terlihat bagaimana Trump mengorbankan Ukraina demi menjinakkan beruang merah itu. [Mh]





