CNG atau Compressed Natural Gas akan menggantikan LPG (Liquefied Petroleum Gas). Hal ini karena LPG impor, sementara CNG berlimpah di dalam negeri. Apa rakyat sudah siap?
Beda CNG dan LPG
Mungkin kata LPG sudah akrab di telinga kita. Ada yang ukuran 3 kilogram dan seterusnya. Gas LPG sudah dekat dengan kehidupan rakyat, terutama emak-emak.
Sayangnya, sebagian kita hanya dekat, tapi belum mengenal lebih dalam. LPG itu gas yang bersumber dari pengeboran minyak. Jadi, selain minyak mentah, hasil pengeboran juga mendapatkan gas cair yang disebut LPG.
Karena itu, gas ini banyak di kawasan pengeboran minyak besar seperti di Timur Tengah: Qatar, Arab Saudi, Oman, Kuwait, dan lainnya. Jadi, LPG harus diimpor dari negara-negara teluk itu.
Sementara CNG, merupakan gas alam yang berjenis gas, bukan cair. Gas ini begitu berlimpah di tanah air. Misalnya, ada orang yang menggali sumur, keluarnya malah gas. Kotoran ternak juga bisa menghasilkan gas yang bisa digunakan untuk memasak.
Plus Minus LPG dan CNG
Dari segi harga, LPG jauh lebih mahal dari CNG. Untuk ukuran 3 kilogram saja, harga aslinya sekitar 42 ribu rupiah lebih. Kalau harga jual ke rakyatnya sekitar 20 ribu rupiah, itu artinya negara mensubsidi 20 ribu lebih per tabung.
Tidak heran jika per tahun, negara harus mensubsidi LPG ukuran ini sebesar 87 triliun rupiah. Bayangkan jika harganya melonjak seiring kekacauan di Timteng, maka subsidinya kian membengkak.
Positifnya, LPG begitu cocok dengan bahan bakar dapur rumah tangga. Bentuknya cair, tekanannya rendah, tabungnya tipis dan ringan.
Sementara CNG, bentuknya gas dengan tekanan besar. Sehingga, membutuhkan tabung yang lebih tebal dari tabung LPG. Kisaran tekanannya mencapai 20 kali gas LPG.
Selain itu, kalau pindah ke CNG, maka regulator untuk tabung CNG berbeda dengan LPG. Jadi, kemungkinan besar harus ganti regulator. Begitu pun dengan tabungnya.
Bagaimana dengan kompornya? Kompor yang selama ini digunakan dengan gas LPG harus sedikit mengalami modifikasi, yaitu di lubang tempat keluarnya gas untuk menghasilkan api.
Sisi negatifnya yang lain, tabung gas CNG yang lebih tebal, selain harus beli baru seperti halnya regulator, bobotnya juga menjadi lebih berat dan ukurannya lebih besar dari LPG. Karena tekanannya lebih besar, kehati-hatian penggunaannya mungkin juga harus lebih besar.
Posifitnya, harganya jauh lebih murah dari LPG. Tidak perlu impor karena berlimpah di dalam negeri.
Jika gonjang-ganjing di Selat Hormuz terus berlanjut, maka penggunaan CNG akan menggantikan LPG. Kecuali, pemerintah ingin mengoptimalkan cadangan gas dalam negeri untuk keperluan dapur rumah tangga yang lebih murah. [Mh]


