NEGARA-negara dikuasai AS dan Israel. Tapi, tidak begitu dengan para warganya. Mereka bebas melawan kesombongan Israel.
Genosida di Gaza, Palestina, kian mengusik nurani bangsa-bangsa di dunia. Bukan hanya umat Islam. Melainkan juga, seluruh aktivis kemanusiaan.
Global Sumud Flotilla
Global Sumud Flotilla merupakan gerakan aktivis kemanusiaan dunia untuk mendobrak blokade Israel terhadap Gaza, Palestina. Mereka melakukannya melalui jalur laut.
Sumud Flotilla merupakan dua kata yang berasal dari dua bahasa negara. Sumud berasal dari bahasa Arab yang artinya keteguhan dan kesabaran. Sementara, Flotilla berasal dari bahasa Spanyol yang artinya kapal-kapal kecil.
Jika dirangkai menunjukkan makna perjuangan melalui kapal-kapal kecil yang berlayar dengan keberanian dan keteguhan untuk melawan blokade Israel terhadap rakyat Gaza, Palestina.
Siapa Mereka
Mereka adalah para aktivis kemanusiaan dari 70 negara. Antara lain, Brazil, Spanyol, Italia, Turki, termasuk juga Indonesia.
Para aktivis berasal dari beragam disiplin ilmu. Antara lain, dokter dan aktivis kemanusiaan lainnya. Mereka juga berasal dari lintas negara dan agama. Mereka membawa bantuan untuk masyarakat Gaza yang kelaparan.
Pada misi tahun ini, 2026, di antara mereka yang ikut dalam misi ini adalah dua wartawan Republika. Dikabarkan, mereka ditangkap pasukan Israel yang mencegat mereka di perairan internasional. Hingga kini, komunikasi dengan mereka terputus.
Perjalanan Panjang
Para aktivis dalam konvoi panjang di laut ini bergerak dari Spanyol, tanggal 12 April 2026. Mereka bergerak melalui Laut Mediterania, melewati Yunani dan laut internasional yang berada di sebelah utara pantai Gaza.
Perjalanan ini membutuhkan waktu berhari-hari. Jika dilakukan tanpa berhenti, tanpa hambatan, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 8 hari untuk bisa tiba di pantai Gaza.
Namun, meski sudah hampir satu bulan, perjalanan belum bisa tiba di pantai Gaza. Hambatan utamanya adalah hadangan dari militer Israel. Padahal, yang mereka lalui itu adalah perairan internasional.
Simbol Kesombongan Israel
Meski ini murni aksi kemanusiaan untuk masyarakat Gaza, Palestina, tapi perjuangan ini menunjukkan simbol perlawanan terhadap kezaliman Israel.
Dalam kaedah fikih disebutkan, maa laa yadroku kulluhu, laa tatroku kulluhu. Artinya, jika tidak bisa dilakukan secara ideal, jangan tidak melakukan sama sekali.
Dunia menyaksikan bahwa Israel begitu biadab. Dan Israel tidak merasa sungkan, apalagi takut, untuk terus dalam kebiadaban itu. Tapi, tak satu pun negara yang berani melakukan perlawanan dan melakukan pembelaan terhadap Palestina secara militer.
Negara-negara boleh takluk oleh Israel dan AS. Tapi tidak demikian dengan warganya. Setidaknya, perjuangan kemanusiaan ini bisa membuktikan kepada rakyat Gaza, Palestina, bahwa masih banyak manusia yang ‘waras’.
Di sisi lain, blokade yang tidak berasalan ini, juga cara Israel untuk menunjukkan kepada dunia bahwa merekalah yang saat ini berkuasa. Bukan AS, bukan Eropa, bukan siapa-siapa termasuk PBB.
Sungguh sebuah ironi di tengah masyarakat dunia yang katanya beradab, terdidik, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. [Mh]


