DERMAWAN itu dicintai Allah dan dicintai manusia. Tapi hati-hati, dermawan tanpa sebab, bisa ‘membonsai’ semangat ikhtiar.
Di sebuah padang pasir, ada seorang pemuda yang merasa kasihan dengan unta-unta liar. Mereka tersiksa dengan terik panas ekstrim, tapi sulit memperoleh air.
Sang pemuda berpikir, kalau ia bisa menyediakan air yang berlimpah setiap hari, unta-unta itu akan tumbuh sehat dan tak lagi tersiksa.
Setelah berhasil membor sumber air, sang pemuda menyediakan wadah besar air untuk unta-unta liar. Diharapkan setelah puas minum, mereka akan kembali ke habitatnya dengan senang hati.
Benar saja. Unta-unta dari segala penjuru padang pasir datang. Penciuman mereka terhadap air mencapai angka kiloan meter. Selain itu, memori mereka tentang lokasi-lokasi air juga kuat.
Bukan lagi puluhan unta liar yang datang untuk minum. Melainkan, ratusan unta. Mereka saling berebut untuk bisa minum air.
Anehnya, unta-unta itu tidak mau bergerak jauh dari sumber air yang disediakan pemuda itu. Hal ini merusak penyebaran unta liar.
Selain itu, karena merasa dimanjakan dengan air yang selalu tersedia, intink penciuman unta terhadap air yang jauh mulai tersendat. Hal ini karena mereka sudah tahu di mana sumber air yang berlimpah dan selalu tersedia.
Suatu kali, mesin air sang pemuda ini rusak. Aliran air pun mati. Wadah air yang biasanya berlimpah, kini hanya tersisa air sedikit.
Hari itu, ratusan unta liar datang berebut air. Hanya sekejap, persediaan air di wadah lenyap tak bersisa.
Parahnya, perbaikan mesin air yang rusak membutuhkan waktu berhari-hari. Ratusan unta hanya bisa berkumpul di sekitar wadah air yang kering. Sebagian mereka sakit, sebagiannya lagi mati.
Kali ini, sang pemuda yang dermawan itu paham dengan kekeliruannya. Niat baik saja tidak cukup untuk membantu yang kesusahan. Kedermawanan harus ada sebab dan tidak merusak hal alami yang biasa bergulir.
**
Allah subhanahu wata’ala itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tapi, Allah tidak memperlakukan semua Nabi dan Rasul serta hamba-hamba yang Ia cintai seperti yang diterima Sayyidah Maryam, ibu dari Nabi Isa alaihissalam: semua makanan serba tersedia.
Mereka Nabi, tapi mereka juga bekerja mencari nafkah. Mereka Nabi, tapi mereka bisa menang dan bisa juga kalah dalam peperangan. Mereka Nabi, tapi mereka juga bisa merasakan sakit, lapar, haus, sedih, dan luka.
Kedermawanan itu harus ada sebab. Mungkin karena mereka yatim, fakir miskin, dan sangat membutuhkan untuk dibantu. Kedermawanan juga bisa mengalir melalui pemberian ‘kail’, bukan ikannya.
Berhati-hatilah dengan niat ikhlas dermawan kita. Jika kurang bijaksana, kedermawanan justru bisa mematikan semangat kerja, kreativitas, rasa menikmati dari jerih payah sendiri. [Mh]



