MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendukung rencana pembangunan kompleks rumah ibadah enam agama di lingkungan Universitas Indonesia (UI).
Menurut Menag, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi etalase kerukunan antarumat beragama yang memperlihatkan secara nyata bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Hal ini disampaikan Menag saat menerima Rektor UI Heri Hermansyah di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perkembangan terbaru proyek pembangunan rumah ibadah bagi enam agama yang diakui negara dalam satu kawasan di lingkungan kampus UI.
Menag menilai kampus merupakan ruang yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut. Sebagai tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan daerah, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi masa depan Indonesia.
Baca juga: Kemenag Gelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Teknologi Digital bagi UMKM
Menag Dukung Rencana Pembangunan Rumah Ibadah Enam Agama di UI
Rektor UI Heri Hermansyah menjelaskan, kawasan yang disiapkan berada di lingkungan kampus UI dan terintegrasi dengan berbagai fasilitas publik.
Selain memiliki akses yang mudah, lokasi tersebut dinilai strategis untuk menjadi ruang perjumpaan dan interaksi lintas agama di lingkungan akademik.
Menurut Heri, pembangunan kompleks rumah ibadah enam agama sejalan dengan posisi UI sebagai kampus yang merepresentasikan keberagaman Indonesia.
Ia menyebut UI memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang yang mencerminkan semangat persatuan di tengah kemajemukan bangsa.
Ia mengungkapkan bahwa rancangan kawasan telah disiapkan dengan konsep yang mengedepankan kesetaraan antar agama.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Setiap rumah ibadah akan dibangun secara proporsional dalam satu kawasan terpadu yang juga dilengkapi ruang bersama sebagai titik temu dan interaksi antar umat beragama.
Meski demikian, Heri mengakui tantangan terbesar saat ini adalah pembiayaan pembangunan. Karena itu, UI bersama Kementerian Agama tengah membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk filantropi keagamaan, dunia usaha, lembaga sosial, dan para dermawan yang memiliki perhatian terhadap penguatan kerukunan bangsa.
Menag Nasaruddin menilai proyek tersebut memiliki makna yang melampaui pembangunan fisik semata. Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap menguji kohesi masyarakat, keberadaan rumah ibadah enam agama dalam satu kawasan diharapkan menjadi simbol bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.
Jika terealisasi, kompleks rumah ibadah enam agama di Universitas Indonesia akan menjadi salah satu kawasan multifaith terbesar di lingkungan perguruan tinggi Indonesia dan berpotensi menjadi model penguatan moderasi beragama bagi kampus-kampus lain di Tanah Air. [Din]





