KONDISI di Jalur Gaza semakin memburuk akibat kekurangan roti dan kebutuhan pokok lainnya, seiring dengan semakin ketatnya pembatasan masuknya barang dan bantuan oleh Israel.
Warga terpaksa mengantre berjam-jam di toko roti yang masih beroperasi untuk mendapatkan roti bersubsidi, namun jumlahnya sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Dilansir dari middleeasteye, selain roti, harga bahan makanan seperti sayuran melonjak tajam, sementara telur, ayam, dan daging hampir tidak tersedia di pasaran.
Banyak keluarga mengaku tidak mampu membeli bahan makanan tersebut selama berminggu-minggu.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Situasi ini terjadi meskipun sebelumnya telah disepakati gencatan senjata yang seharusnya memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar.
Namun, kenyataannya, jumlah bantuan yang masuk jauh di bawah kebutuhan. Gaza membutuhkan ratusan ton tepung setiap hari, tetapi yang tersedia hanya sebagian kecilnya.
Begitu pula dengan jumlah truk bantuan yang masuk, yang jauh dari target yang ditetapkan.
Akibat kondisi tersebut, kekhawatiran akan terjadinya kelaparan kembali meningkat di kalangan warga Gaza.
Banyak orang kini bergantung pada dapur umum dan berusaha menghemat makanan seadanya untuk bertahan hidup.
Gaza Kian Tercekik: Roti Langka, Bantuan Terbatas
Baca juga: Keluarga di Gaza Bangun Kembali Rumah dengan Tanah Liat di Tengah Keterbatasan
Selain krisis pangan, wilayah tersebut juga mengalami kekurangan bahan bakar dan gas untuk memasak.
Hal ini memaksa warga menggunakan bahan alternatif seperti kayu, plastik, atau sampah untuk memasak, yang berisiko bagi kesehatan.
Sejumlah organisasi kemanusiaan dan kelompok hak asasi manusia menilai bahwa pembatasan yang diberlakukan telah memperparah kondisi hidup warga sipil.
Mereka menegaskan bahwa situasi di Gaza masih sangat memprihatinkan dan kebutuhan bantuan kemanusiaan belum terpenuhi secara memadai.[Sdz]





