KETIKA Donald Trump mengumumkan Board of Peace, bagaimana ya perasaan rakyat Ghazzah? Ketika 700 hari lebih mereka diserang, setiap sudut rumah mereka menjadi tempat kesyahidan, ketika pemimpin-pemimpin hebat mereka ditarget tepat di rumah-rumah mereka dan dibombardir tatkala bersama keluarga.
Ketika mereka tahu bahwa penjajah yang menghancurkan negeri mereka, malah menjadi “panitia utama” pembangunan Ghazzah?
Bagi teman-teman yang masih bingung, Board of Peace adalah sebuah organisasi tandingan PBB yang dibuat bapak-bapak boomer yang dia bilang sendiri, “Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak pernah membantu saya.”
Dia ingin menyulap Ghazzah menjadi tempat yang diinginkannya: mewah, megah, tapi tanpa nyawa. Tapi para ahli mengatakan, Trump mencoba menjadikan di organisasi itu hanya dia yang memiliki hak veto. Ehe.
Tapi masyarakat Ghazzah seperti punya dimensi berpikir lain dalam menghadapi Board of Peace. Mereka, singkatnya, tidak menganggap proyek abal-abal itu sebagai sesuatu yang begitu mengancam. Sebab, mereka sudah melalui semua kengerian hidup yang ada; dan mereka paham bahwa selama ini rencana Trump tak ada yang benar-benar berhasil.
baca juga: Sosok di Balik Ide Gila Trump tentang Gaza
Board of Peace, Keyakinan Pejuang Ghazzah dan Tadabbur Surat Al Hasyr
Ahli politik senior Dr. Yaser Zaatreh saja sampai berkata, “Ia adalah kutukan bagi Amerika dan Barat. Dan dari sisi kami, nasib programnya —insyaAllah— akan lebih buruk daripada pendahulunya.”
Dr. Yaser Zaatreh yang asli dari Baitul Maqdis itu mengatakan tentang Trump, “Seandainya ia berada di pihak yang benar, tentu ia mampu meyakinkan rakyatnya sendiri. Tapi justru satu per satu meninggalkannya, sebagaimana ditunjukkan oleh jajak pendapat.”
Untuk pertama kalinya pun, dalam sejarah modern, negara-negara Eropa hampir semuanya tak sepakat dengan AS. Negara-negara itu seperti Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Norwegia, dan Swedia.
Aku malah jadi mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Syaikh Ahmad Yusuf As Sayyid, bahwa era ini adalah “zaman at tahawwulat al kubra”, era perubahan besar-besaran. Sebuah era di mana AS justru kehilangan sekutunya, kalah di banyak medan perang, dan Ghazzah tak bisa digertak.
Di fase zaman seperti ini jugalah, dulu Rasulullah hadir. Sebuah dunia yang dikuasai Romawi Persia, tapi dua kekaisaran itu mulai kehilangan kekuatannya. Ujungnya, justru muncul superpower baru bernama: muslimin.
Rasulullah dan sahabatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda dengan Romawi ataupun Persia. Tahukah kau? Di zaman Nabi, Romawi menganggap bangsa Arab hanya figuran. Tidak dianggap. Tidak didengarkan. Sama seperti AS melihat kita, memandang Ghazzah. Romawi menganggap dirinya besar. Tapi bangsa Arab yang kemudian telah bersenyawa dengan Islam ini, mengagetkan dunia. Mengalahkan mereka.
Bangsa Yahudi pun memandang kaum muslimin sebagai umat yang biasa saja. Di Madinah, di zaman Nabi, ada suku Yahudi Bani Nadhir yang merasa tak akan kalah. Logikanya, mereka bisa berkata, “Hei muslimin, kami yang punya ilmu, harta, dan benteng; kalian hanya followers.”
Tapi, begitu kagetnya Bani Nadhir ketika kaum muslimin ternyata mampu memecah ekspektasi musuh. Al Hasyr dengan apik mengisahkannya.
Allah menggambarkan bagaimana isi pikiran yahudi Bani Nadhir saat kaum mengepung mereka, “Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun yakin benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka…” (Al Hasyr 2).
Namun apa yang terjadi? Allah berfirman, “maka Allah datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka…”
Jalan cerita Bani Nadhir dan Romawi itu, sangat mungkin bisa terbentang lagi di zaman kita. Ketika dunia menganggap diri mereka masih kuat dan meremehkan Ghazzah; kenyataannya Allah sedang membuat mereka saling bertengkar, menghembuskan rasa takut di benak “admin-admin bumi” itu. Tapi ada syarat yang harus kita upayakan: memantaskan diri.
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…” (An Nur 55).[ind]
sumber: Gen Saladin Channel




