IDE gila Trump tercetus melalui Board of Peace di Davos, Kamis (22/1) lalu. Sosok di balik itu adalah menantu Trump sendiri.
Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian tentang Gaza akhirnya diluncurkan oleh Trump di Davos. Sebanyak 35 negara telah menandatangani BoP itu. Di antaranya Turki, Saudi, Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, Pakistan, Maroko, dan Indonesia.
Di momen itu pula, dikenalkan sosok yang begitu peran dalam BoP. Ia tak lain adalah menantu Trump sendiri. Namanya, Jared Corey Kushner.
Siapa Jared Kushner
Jared adalah pelobi Yahudi ulung. Ia lahir pada 10 Januari 1981 di Livingston, New Jersey, Amerika. Putra dari pasangan Charles Kushner dan Seryl Kushner ini menamatkan sarjananya di NYU School of Law, tahun 2007.
Pada tahun 2009, Jared menikahi putri Trump: Ivanka. Pernikahan dilakukan secara tradisional keagamaan Yahudi Ortodoks. Dan kini, keduanya telah memiliki tiga anak, yang juga dididik secara pendidikan Yahudi.
Kakek dan nenek Jared dikabarkan terkait dengan ‘drama’ Holocaust di Jerman. Dengan kata lain, Jared dan keluarganya merupakan Yahudi imigran Jerman.
Pada tahun 2020, Jared mendirikan sebuah organisasi yang khusus menyambungkan hubungan diplomatik sebuah negara dengan Israel. Nama organisasi itu Abraham Accords.
Di balik lobi dan terjalinnya hubungan diplomatik sebuah negara dengan Israel adalah Jared. Termasuk yang pernah berlangsung dengan Arab Saudi pada tahun 2023 lalu. Hampir saja, Saudi menjalin hubungan diplomatik yang menurut MBS atau Muhammad bin Salman dengan istilah ‘sebentar lagi’.
‘Sayangnya’ upaya itu gagal karena manuver berani Hamas yang menyerang Israel di pagi buta pada 7 Oktober tahun 2023 itu.
Bisa dibilang, ke-35 negara yang menandatangani kesepakatan BoP itu sebagian besarnya adalah negara-negara muslim yang sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Antara lain, Turki, Maroko, UEA, Mesir, dan lainnya.
Visi Jared tentang Gaza yang ‘Damai’
Di forum bergengsi Davos itu, Jared juga dipersilakan Trump untuk memaparkan visi tentang ‘Damai Gaza’. Karena Jaredlah yang akan memimpin rekonstruksi Gaza.
Jared menjelaskan bahwa Gaza nantinya akan menjadi kota wisata yang dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang mewah. Untuk kawasan pantai Gaza saja, akan dibangun sebanyak 180 gedung mewah yang menghadap ke laut.
Selain itu, Gaza juga akan dibangun ratusan ribu hunian mewah, rumah sakit, sekolah, taman-taman, dan arena olah raga.
Satu hal yang menarik dari pemaparan Jared adalah prakondisi terhadap Gaza. Menurutnya, syarat mutlak dari ‘Damai Gaza’ adalah demiliterisasi yang ada di Gaza, khususnya Hamas.
Nantinya, aparat militer yang selalu siap siaga melakukan pengamanan adalah tentara Israel. Mulai dari kawasan Rafah yang kini sudah dikuasai Israel, dan wilayah-wilayah di Gaza.
Kontradiksi ‘Damai Gaza’
Apa yang dipaparkan Jared dalam presentasi yang berjudul ‘New Gaza’ itu sama sekali tidak pernah menyebut penegakan hukum terhadap pelaku genosida: Israel.
Sebaliknya, berkali-kali, Jared justru menyerahkan keamanan dan demiliterisasi di Gaza adalah militer dari Israel. Ini artinya, program BoP tak lebih dari kelanjutan operasi militer Israel di Gaza.
Mungkin orang lupa bahwa Trump adalah Presiden AS kedua yang begitu berjasa terhadap Israel. Presiden AS pertama yang berjasa terhadap Israel adalah Harry S Truman. Ia mengakui negara Israel hanya 11 menit setelah proklamasi kemerdekaan.
Sementara Trump, merupakan pemimpin negara yang pertama kali mengakui bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Hal itu ia lakukan di masa kepemimpinan yang pertama.
Satu hal yang tidak disebutkan Jared dalam presentasi bergengsi itu: apakah ia dan konsep ‘New Gaza’ sudah disetujui rakyat Palestina dan Gaza khususnya?
Mungkin menurut Jared dan Trump bahwa hal itu tak perlu. Lagian, mana ada penjajah yang minta izin rakyat jajahannya. [Mh]





