TERHITUNG sejak jam 7 WIB, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Pematangannya akan dilakukan pada perundingan Jumat ini (10/4).
Warga dunia akhirnya bisa bernafas lega. Perang besar antara AS bersama Israel versus Iran akhirnya dilakukan gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan itu akan dilakukan pematangan pada perundingan Jumat ini.
Win Win Solution
Baik Iran maupun AS melakukan kesepakatan gencatan senjata didasari atas keuntungan bersama kedua belah pihak. Meskipun, Israel hanya mengikuti sikap AS terhadap Iran.
Win Win Solution itu adalah AS menyetujui 10 tuntutan Iran sebagai syarat mengakhiri perang, termasuk tentang ganti rugi. Sementara Iran menyetujui konsep gencatan senjata sementara. Padahal sebelumnya, Iran menginginkan gencatan senjata permanen.
Kesepakatan ini juga terjadi setelah kedua belah pihak saling menjatuhkan tenggat akhir perang, terutama pihak AS.
Jika Perang Berlangsung Lebih Lama
Dari ketiga pihak yang terlibat dalam perang, AS merupakan pihak yang paling dirugikan jika perang berlangsung lebih lama lagi.
Hal ini karena infrastruktur bisnis mereka di Timur Tengah hancur. Mulai dari depot-depot minyak, jaminan keamanan untuk negara-negara Arab, termasuk juga pangkalan militer AS yang porak poranda.
Selain itu, secara pribadi, Trump merasa rugi besar secara politik. Hal ini karena rating citranya anjlok di angka 30 persen. Dan hal ini akan berakibat serius di pemilu sela pada November mendatang.
Bukan itu saja. Nama besar AS tak lagi dianggap oleh negara-negara sekutunya sendiri, khususnya NATO. Semakin lama perang berlangsung, seribu satu kelemahan militer AS seperti ditelanjangi oleh Iran. Dan itu akan menjatuhkan wibawa AS.
Keuntungan Gencatan Senjata untuk Iran
Meski seperti dalam keterpaksaan, Iran menyepakati gencatan senjata dengan AS. Hal ini karena Iran sejak awal menginginkan gencatan senjata secara permanen, bukan sementara.
Namun begitu, ada sejumlah keuntungan dari gencatan senjata ini untuk Iran. Pertama, disetujuinya 10 tuntutan Iran terhadap AS. Termasuk ganti rugi yang mereka alami di dalam negeri.
Kedua, ‘citra menang’ Iran di dunia internasionnal. Meskipun dikeroyok dua negara dengan kekuatan militer besar, tapi masih bisa membuat lawan jatuh bangun.
Selain itu, Iran berada pada posisi membela diri, bukan sebagai pihak yang pertama kali menyerang. Hal ini menjadikan Iran pada posisi sah dalam aturan perang yang ditentukan oleh piagam PBB.
Ketiga, citra Iran akan meningkat di gencatan senjata ini, khususnya oleh negeri-negeri muslim. Hal ini karena, selain tekanan harga minyak yang begitu berat, juga karena ada momen ibadah haji yang akan berlangsung dalam beberapa pekan ini.
Dengan gencatan senjata ini, Iran mengalah demi momen ibadah dunia Islam, yaitu ibadah haji. Tanpa adanya gencatan senjata, ibadah haji bagi dunia Islam menjadi peristiwa yang ‘menakutkan’.
Posisi Israel
Secara hukum dan politik, Israel sepertinya bermain ‘aman’. Yaitu, berlindung di bawah wibawa AS. Padahal, Israel-lah yang paling patut diseret ke pengadilan HAM dunia karena mengawali serangan ke negara lain tanpa sebab yang diterima hukum.
Kesepakatan ini, memang menempatkan Israel sebagai pihak yang ‘kalah’. Karena begitu banyak infrastruktur negerinya yang hancur oleh rudal-rudal Iran.
Namun begitu, bagi Israel hal itu bukan masalah. Karena semua itu bisa dibangun seperti semula. Bahkan dengan banyaknya prajurit atau rakyatnya yang tewas sekali pun, Israel tak begitu mempersoalkan.
Hal yang menurut Israel sudah sangat menguntungkan adalah terbunuhnya begitu banyak petinggi berpengaruh Iran. Termasuk, Ayatullah Ali Khamenei, dan petinggi-petinggi militer Iran.
Kalau gedung dan infrastruktur merupakan persoalan mudah bagi Israel, tapi gugurnya para pemimpin tertinggi merupakan harga mahal yang tidak bisa dinilai dengan apa pun.
Salah Kalkulasi
Terlepas dari siapa yang ‘menang’ dan ‘kalah’, yang jelas terlihat di publik dunia adalah kesalahan fatal Israel dan AS dalam mengkalkulasi kekuatan Iran.
Mereka awalnya sesumbar akan mengalahkan Iran hanya dalam dua atau empat hari saja. Tapi, justru perang menjebak mereka terperosok kedalam jebakan perang Iran yang seperti tak berkesudahan.
Perang yang berlangsung 40 hari ini setidaknya membuka mata dunia, khususnya negeri-negeri muslim bahwa saatnya untuk tegas dan berani terhadap AS dan Israel.
Itu hanya Iran saja. Bayangkan jika negeri-negeri muslim bersatu, tentu kekuatannya akan jauh lebih dahsyat lagi. Bahkan, akan menghancurkan Israel dan memerdekakan negeri Palestina. [Mh]





