DI TENGAH meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, stigma terhadap orang yang mengalami gangguan psikologis masih menjadi persoalan. Salah satu anggapan yang kerap muncul adalah bahwa seseorang yang mengalami depresi, kecemasan, atau tekanan emosional dianggap kurang beribadah dan tidak cukup mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ungkapan seperti “kurang bersyukur”, “kurang istigfar”, atau “kurang mendekatkan diri kepada Allah” terkadang diberikan sebagai respons kepada seseorang yang sedang mengalami kesulitan mental. Meskipun dimaksudkan sebagai nasihat, pernyataan tersebut berpotensi membuat seseorang merasa disalahkan atas kondisi yang sedang dialaminya.
Padahal, kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan manusia secara menyeluruh. Kondisi psikologis seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi biologis, pengalaman traumatis, tekanan lingkungan, masalah keluarga, hingga tuntutan pekerjaan dan kehidupan sosial.
Menurut World Health Organization (WHO), gangguan mental melibatkan perubahan signifikan dalam pemikiran, pengaturan emosi, atau perilaku seseorang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
Dengan demikian, menyederhanakan gangguan kesehatan mental sebagai akibat kurangnya ibadah merupakan pemahaman yang perlu diluruskan.
Antara Keimanan dan Kesehatan Mental
Dalam kehidupan masyarakat Muslim, agama memiliki peran penting sebagai sumber kekuatan spiritual. Beribadah, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan berzikir dapat menjadi bagian dari upaya seseorang dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya mengingat Allah dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, ketenteraman spiritual tidak seharusnya dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai kondisi kesehatan mental seseorang.
Seseorang yang rajin beribadah tetap dapat mengalami depresi, kecemasan, maupun gangguan psikologis lainnya. Kondisi tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa dirinya memiliki keimanan yang lemah.
Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara persoalan spiritual dan kondisi kesehatan mental. Keduanya dapat saling berkaitan, tetapi tidak dapat disamakan.
Stigma Kesehatan Mental yang Dapat Menghambat Seseorang Mencari Pertolongan
Anggapan bahwa gangguan mental merupakan tanda lemahnya iman dapat menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Seseorang mungkin merasa malu untuk menceritakan kondisinya karena khawatir dianggap kurang bersyukur atau tidak cukup religius.
Akibatnya, sebagian orang memilih memendam permasalahan yang dialami dan enggan mencari bantuan profesional.
Penelitian berjudul Understanding the Beliefs and Attitudes Towards Mental Health Problems Held by Muslim Communities (2023) membahas bagaimana keyakinan dan pandangan keagamaan dalam sejumlah komunitas Muslim dapat memengaruhi pemahaman terhadap gangguan mental serta keputusan untuk mencari pertolongan.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan yang tidak menghakimi dalam memberikan dukungan kepada seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental.
Dalam konteks ini, keluarga dan lingkungan sosial memiliki peran penting. Memberikan ruang untuk bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, serta membantu seseorang mendapatkan pertolongan yang tepat merupakan bentuk dukungan yang lebih konstruktif dibandingkan sekadar menyalahkan kondisi keimanannya.
Baca Juga: Jangan Sepelekan! Ini 7 Dampak Kurang Minum Air Putih bagi Kesehatan
Stigma Kesehatan Mental Bagaimana Islam Memandang yang Dianggap sebagai Tanda Lemah Iman?
Islam Tidak Melarang Umatnya Mencari Pengobatan
Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha menghadapi kesulitan, termasuk dengan mencari pengobatan ketika mengalami penyakit.
Rasulullah SAW bersabda:
“Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”
(HR. Abu Dawud No. 3855; diriwayatkan pula dalam sejumlah kitab hadis lainnya dengan redaksi yang beragam).
Hadis tersebut dapat menjadi landasan bahwa mencari pertolongan medis merupakan bagian dari ikhtiar seorang Muslim.
Dalam konteks kesehatan mental, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukanlah bentuk kurangnya tawakal. Sebaliknya, tindakan tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperoleh penanganan yang sesuai dengan kondisi seseorang.
Ibadah dan pengobatan profesional juga tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan sebagai bentuk ikhtiar dalam menjaga kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual.
Memahami Bahwa Setiap Orang Memiliki Perjuangannya Sendiri
Menghadapi masalah kesehatan mental bukanlah pengalaman yang sama bagi setiap orang. Ada yang mampu mengatasinya melalui dukungan keluarga, ada pula yang membutuhkan pendampingan psikologis maupun penanganan medis.
Karena itu, masyarakat perlu membangun pemahaman bahwa seseorang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan tidak membutuhkan penghakiman atas tingkat keimanannya. Mereka membutuhkan dukungan, pemahaman, dan akses terhadap pertolongan yang tepat.
Dalam perspektif Islam, menjaga kehidupan dan memperlakukan sesama manusia dengan baik merupakan nilai yang penting. Memberikan dukungan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan juga merupakan bagian dari kepedulian sosial.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, menjadi seorang Muslim yang taat bukan berarti seseorang terbebas dari kesedihan, kecemasan, atau persoalan psikologis. Keimanan dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi kehidupan, tetapi masalah kesehatan mental tetap perlu dipahami dan ditangani secara tepat.
Sebab, mencari pertolongan bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari ikhtiar untuk menjaga amanah kehidupan yang diberikan Allah SWT. [Ssh]





