KISAH Syifa binti Abdullah Al-Adawiyah merupakan salah satu teladan perempuan Muslim pada masa Rasulullah SAW yang menarik untuk dikenali. Ia bukan hanya dikenal sebagai sahabiyah yang cerdas tetapi juga perempuan terampil yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Di tengah masyarakat yang saat itu belum banyak mengenal tradisi literasi perempuan Syifa justru menggunakan ilmunya untuk mendidik orang lain.
Keistimewaannya semakin terlihat ketika ia dipercaya mengajarkan kemampuan membaca dan menulis kepada Hafshah binti Umar yang kelak menjadi salah satu istri Rasulullah SAW. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan amanah yang perlu dikembangkan dan dibagikan demi memberikan manfaat kepada sesama.
Baca Juga: Apakah Benar Konsumsi Tauge Dapat Meningkatkan Kesuburan Pria atau Wanita?
Siapa Syifa binti Abdullah Al-Adawiyah? Kisah Teladan Muslimah Cerdas dan Berilmu
1. Mengenal Syifa binti Abdullah Al-Adawiyah
Syifa memiliki nama asli Laila binti Abdullah bin Abdusy Syams Al-Adawiyah Al-Qurasyiyah. Ia juga dikenal dengan kunyah Ummu Sulaiman. Julukan Syifa yang berarti kesembuhan diberikan karena pengetahuannya dalam membantu mengobati penyakit.
Ia berasal dari kabilah Adi dari suku Quraisy dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Umar bin Khattab. Syifa termasuk perempuan yang lebih dahulu memeluk Islam. Ia kemudian ikut berhijrah ke Madinah bersama putranya yang bernama Sulaiman.
Keputusannya memeluk Islam pada masa awal dakwah menunjukkan keteguhan iman. Sebab saat itu kaum Muslimin masih menghadapi tekanan dan perlakuan buruk dari kaum musyrik Quraisy.
2. Menjadi Guru bagi Hafshah binti Umar
Salah satu keistimewaan Syifa adalah kemampuannya membaca dan menulis. Pada masa itu kemampuan tersebut belum banyak dimiliki oleh perempuan Arab. Namun Syifa justru menjadikan keterampilannya sebagai sarana untuk mengembangkan pendidikan.
Ia dipercaya mengajarkan baca tulis kepada Hafshah binti Umar yang kemudian menjadi Ummul Mukminin. Peran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan perempuan mendapat perhatian dalam kehidupan masyarakat Muslim sejak masa Rasulullah SAW.
Dalam sebuah riwayat Syifa disebut pernah diminta Rasulullah SAW untuk mengajarkan ruqyah kepada Hafshah sebagaimana ia telah mengajarkan kemampuan menulis kepadanya.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa ilmu tidak seharusnya disimpan untuk diri sendiri. Seseorang yang memiliki pengetahuan hendaknya bersedia membagikannya agar orang lain juga memperoleh manfaat.
3. Memiliki Pengetahuan tentang Pengobatan dan Ruqyah
Selain dikenal sebagai perempuan yang terampil dalam membaca dan menulis Syifa juga memiliki pengetahuan mengenai pengobatan pada masa itu. Salah satunya adalah ruqyah untuk penyakit kulit yang dikenal dengan istilah namlah.
Sebelum memeluk Islam Syifa pernah mempraktikkan ruqyah tersebut. Setelah menjadi Muslimah ia tidak langsung melanjutkan praktiknya karena ingin memastikan apakah cara pengobatan tersebut sesuai dengan ajaran Islam.
Ia kemudian menyampaikan persoalan tersebut kepada Rasulullah SAW. Dalam riwayat yang disebutkan oleh para ulama Rasulullah membolehkan ruqyah selama tidak mengandung unsur kesyirikan.
Peristiwa ini menunjukkan sikap hati-hati Syifa dalam menjalankan agama. Ia tidak sekadar mempertahankan kebiasaan lama tetapi berusaha memastikan bahwa tindakannya sejalan dengan tuntunan Islam.
4. Mendapat Kepercayaan dan Penghormatan dari Umar bin Khattab
Syifa merupakan perempuan yang dikenal memiliki kecerdasan dan pandangan yang baik. Hal tersebut membuatnya dihormati oleh para sahabat termasuk Umar bin Khattab.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Umar kerap mengunjungi Syifa dan meminta pertimbangannya dalam sejumlah persoalan. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Syifa pernah diberi tanggung jawab berkaitan dengan pengawasan aktivitas perdagangan di pasar Madinah.
Kisah tentang tugas pengawasan pasar ini menunjukkan gambaran kepercayaan terhadap kemampuan perempuan dalam urusan sosial. Meski demikian rincian penugasan tersebut disebutkan dalam sejumlah riwayat sejarah sehingga perlu disampaikan secara hati-hati.
Syifa membuktikan bahwa perempuan dapat berkontribusi melalui ilmu dan kecakapan. Peran perempuan tidak terbatas pada satu bidang saja selama dilakukan dengan tanggung jawab dan sesuai tuntunan agama.
5. Mendapat Penghormatan dari Rasulullah SAW
Syifa dan keluarganya juga memiliki hubungan yang baik dengan Rasulullah SAW. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Rasulullah pernah mengunjungi rumahnya dan beristirahat di sana.
Syifa bahkan menyiapkan tempat khusus agar Rasulullah dapat beristirahat dengan nyaman. Kisah tersebut menggambarkan hubungan yang penuh penghormatan antara Syifa dan keluarga Nabi.
Kepribadiannya yang baik serta pengetahuannya membuat Syifa dikenal sebagai salah satu perempuan terhormat pada masa itu. Ia juga meriwayatkan sejumlah hadis yang kemudian disampaikan oleh putra dan cucunya serta beberapa orang lainnya.
6. Teladan yang Bisa Dipetik dari Kehidupan Syifa
Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Syifa binti Abdullah Al-Adawiyah. Pertama adalah pentingnya menuntut ilmu tanpa memandang gender maupun keadaan. Kedua adalah kemauan untuk membagikan pengetahuan kepada orang lain.
Selain itu Syifa mengajarkan pentingnya bersikap hati-hati dalam menjalankan agama. Ia tidak ragu bertanya ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahami.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah hidupnya juga menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.
Syifa binti Abdullah Al-Adawiyah wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Namanya tetap dikenang melalui berbagai catatan sejarah sebagai perempuan Muslim yang cerdas dan berilmu.
Semoga keteladanan Syifa menginspirasi kita untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu. Sebab ilmu yang bermanfaat bukan hanya menjadi kebaikan bagi diri sendiri tetapi juga dapat menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. [DW]





