Di tengah tantangan modernisasi, globalisasi, dan transformasi digital, Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) menggelar konferensi internasional bertajuk “Konferensi Keluarga Asia Pasifik” dengan tema “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara di Kawasan: Penguatan Peran Perempuan dan Pengokohan Keluarga di Asia Pasifik” di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Konferensi yang berlangsung selama satu hari ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari enam negara di kawasan Asia Pasifik, di antaranya Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Sri Lanka. Peserta terdiri dari unsur akademisi, organisasi perempuan dan keluarga, pembuat kebijakan, praktisi sosial dan psikolog, tokoh agama, serta perwakilan komunitas keluarga.
Keluarga dan Perempuan sebagai Fondasi Ketahanan Kawasan
Dalam pengantarnya, Ketua PBKM, Dr. Aan Rohanah, menegaskan bahwa keluarga adalah unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam sistem sosial masyarakat.
“Penting untuk menjadikan keluarga sebagai pembangun peradaban. Keluarga memerlukan pembinaan dalam rangka menyiapkan generasi berintegritas. Semua anggota keluarga adalah komunitas yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan,” ujarnya.
Data World Bank 2023 menyebut setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu dapat menurunkan angka kematian anak hingga 9%. Sementara data UNESCO 2024 mencatat masih ada 16 juta anak SD dan 34 juta remaja di Asia Pasifik yang tidak bersekolah, dengan proporsi anak perempuan lebih tinggi. WHO 2025 juga menyoroti masih tingginya angka kematian ibu di Asia Selatan dan Pasifik akibat minimnya fasilitas kesehatan.
Menjawab tantangan itu, PKBM saat ini tengah mengembangkan konsep rumah bercahaya. Lebih dari 250 tema disiapkan, mulai dari persiapan menikah, mendidik anak, menghadapi perceraian, menjadi orang tua tunggal, hingga peran sebagai kakek nenek. Upaya ini akan diperluas dengan pemanfaatan teknologi digital.
“PBKM membangun keluarga di Asia Pasifik, termasuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam penguasaan teknologi digital. Faktanya, negara Asia Pasifik menjadi negara penetrasi terbesar pengguna internet. Kita akan memperluas penguatan keluarga lewat ruang-ruang digital. Kita menyeru masyarakat, mulai dari mereka yang belum menikah hingga kakek nenek,” imbuh Dr Aan.
8 Materi Pokok dan Praktik Baik Lintas Negara
Konferensi dibagi dalam 2 pokok bahasan besar. Pertama, Peningkatan Peran Perempuan, meliputi Perempuan dan Agama, Pendidikan & Kesehatan, Peran di Keluarga dan Masyarakat, serta Kepemimpinan di Ruang Publik. Kedua, Pengokohan Keluarga, meliputi Penguatan Fungsi Keluarga, Membangun Resiliensi Menghadapi Tantangan Global, serta Nilai, Kebijakan dan Kolaborasi.
Sesi khusus _Country Sharing_ menampilkan praktik baik dari berbagai negara. Indonesia memaparkan Program Kampung Keluarga Berkualitas dan peran PKK. Malaysia berbagi integrasi nilai keagamaan dalam kebijakan keluarga. Brunei menampilkan model pendidikan perempuan berbasis nilai Islam. Thailand memaparkan kebijakan perlindungan ibu dan anak.
Keynote dan Narasumber Nasional
Sesi _Keynote Speech_ disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI, Dr Hidayat Nur Wahid, dengan subtema “Keluarga Berketahanan sebagai Prasyarat Kawasan Maju”.
Dr Hidayat menyebut, kawasan Asia Pasifik dihuni oleh 60% yang sangat menghormati agama.
“Filosofi besar lahir di Asia Pasifik. Ajaran konfusionisme, misalnya, sangat mementingkan penghormatan anak kepada orang tua. Agama Hindu mengajarkan pentingnya keluarga sukinah. Katolik menegaskan pentingnya anak menghormati orang tua. Islam mengajarkan birrul walidayn dan keluarga samara. Itulah potensi besar di Asia Pasifik,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat di kawasan ini tengah dipengaruhi oleh gerakan LGBTQ dan upaya masih untuk menjauhkan masyarakat dari eksistensi keluarga.
“Ada tiga jenis ancaman dari gerakan ini. Pertama, dekonstruksi terhadap pentingnya keluarga. Di sini terjadi penurunan angka pernikahan, peningkatan angka perceraian, dan penurunan angka kelahiran. Kedua, dekonstruksi terhadap institusi keluarga, di mana berkeluarga dianggap sebagai ancaman. Ketiga, menghilangkan peran keluarga inti terhadap masa depan keluarga dan anak. Terjadi trend generasi sekarang yang tidak mau mengambil pendapat ayah dan ibu, tetapi dari teman,” jelas Dr Hidayat.
Karena itu, lanjutnya, sangat penting untuk melakukan penyelamatan keluarga, ibu dan anak, serta agama. Mengarusutamakan agama menjadi sangat penting. Sebab, korban proyek anti keluarga adalah semua agama. Maka, semua agama harus turun tangan.
Selain itu, penting pula untuk mengarusutamakan keluarga dengan tidak hanya mengandalkan peran ibu, tetapi juga peran ayah. Anak yang melihat harmoni ayah dan ibu akan berdampak pada penyelamatan keluarga dan bangsa.
“Di Indonesia sendiri ada dua produk negara dalam rangka menguatkan keluarga. Pertama, pasal 28 b ayat 1 yang memberi landaaan kuat terhadap eksistensi keluarga yang berasal dari perkawinan yang sah. bahwa keluarga adalah HAM berdasarkan UUD. Kedua, UU no 24 th 2024 yang di antaranya memuat hak ibu untuk mendapatkan bimbingan keagamaan, hak perlindungan terhadap anak, hak suami untuk mendapatkan cuti ketika mendampingi persalinan istri, serta hak suami mendampingi istri yang keguguran,” pungkasnya.
Narasumber nasional lain yang juga hadir diantaranya Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, Prof. Dr. Dumilah Ayuningtyas dari UI, Prof. Dr. H. Achmad Satori Ismail, Prof. Dr. R. Siti Zuhro dari BRIN, Ledia Hanifa, M.Psi.T, Dr. Dinar Dewi Kania, Diana Setyawat PhD, dari UGM, Prof. Dr. Luluk Setyaningsih, Prof. Dr. Heru Susetyo dari UI, dan Wirianingsih, M.Si. Tokoh publik Nikita Willy dan Dhini Aminarti juga hadir sebagai peserta aktif.
Target Output: Deklarasi dan Rekomendasi Kebijakan
Konferensi ditutup dengan Sesi Pleno perumusan “Asia-Pacific Family Declaration 2026” yang berisi komitmen bersama negara-negara anggota PBKM. Output lain yang ditargetkan adalah Modul Panduan Praktis Ketahanan Keluarga, Matriks Kurikulum Pendidikan Perempuan dan Keluarga, serta Roadmap Kepemimpinan Perempuan.
“Melalui forum ini kami berharap lahir rekomendasi, komitmen, dan agenda aksi bersama untuk memperkuat fungsi keluarga, meningkatkan peran perempuan, melindungi generasi muda, dan membangun ekosistem keluarga yang tangguh, harmonis, dan berdaya di Asia Pasifik,” tutup Dr. Aan Rohanah. [Mh/PBKM]





