DI dalam struktur keluarga, perempuan memegang peran sentral yang cukup kompleks, baik sebagai pendidik utama generasi penerus maupun sebagai penopang ekonomi harian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam ranah keluarga maupun publik seringkali dikesampingkan.
Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) menyelenggarakan konferensi untuk mendiskusikan arah kebijakan dan langkah nyata demi memperkuat ketahanan keluarga di kawasan asia pasifik di Jakarta, Sabtu (12/09). Menghadirkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Srilanka, Filipina dan Thailand, dengan mengangkat tema “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara Sekawasan: Menguatkan Peran dan Kepemimpinan Perempuan di Asia Pasifik”, menilai bahwa penguatan peran perempuan adalah kunci utama untuk menciptakan ekosistem keluarga yang berketahanan.
Kerentanan perempuan dan keluarga di kawasan Asia Pasifik menghadapi ancaman eksternal seperti krisis iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan minimnya perlindungan hukum. Kasus rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan serta pemahaman agama kaum perempuan menjadi isu kritis yang memengaruhi kontribusi dan masa depan perempuan di beberapa negara anggota.
Melalui penyelenggaraan konferensi ini, PBKM berkomitmen untuk merumuskan solusi kolaboratif lintas negara guna meningkatkan peran perempuan dalam keluarga. Di antara yang dibahas dalam forum ini adalah terkait dengan “Peran Perempuan di Keluarga dan Masyarakat”.
Dalam diskusi panel, Dr Aan Rohana, Lc, M.Ag selaku ketua PBKM dan Prof Dr. H. Achmad Satori Ismail dalam pemaparannya menjelaskan peran perempuan di keluarga sebelum menikah, setelah menikah, dan di tengah masyarakat. Memperkuat peran perempuan sebagai jantung keluarga dan penggerak utama ketahanan keluarga di kawasan Asia Pasifik merupakan hal yang perlu disepakati bersama.
Prof Satori menyampaikan, “untuk membahagiakan keluarga, perlu satu kesatuan. Sakinah itu penting. Dapat tercapai ketika suami istri dapat bekerja sama dengan baik. Mawaddah, merupakan sarana untuk Sakinah. Baik ketika sudah muda masih cantik masih saling cinta, atau ketika sudah tua tetap sakinah, karena ada rahmah“
“Perempuan harus berperan sebagai mana berperannya laki-laki. Karena perempuan merupakan saudara kandung laki². Perempuan menentukan kualitas manusia. Sebagai penstabilitas keluarga, masyarakat dan bangsa”, himbau Aan Rohana
Salah satu peserta, Asmita dari organisasi Alisa Khadijah menyampaikan, “Berharap ada women center yang dapat diakses gratis. Karena perempuan yang sudah menikah perlu dukungan dalam segala aspek. Perlu tetap memiliki pendapatan walau tugas suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pendidikan yang diperlukan oleh perempuan.
Usulan dari peserta lain, “ada satu tantangan yang laten. Tantangan ideologis dan pemikiran. Berkembang dan selalu terbarukan. Perlu mengantisipasi, karena efek menurunnya kualitas peran laki-laki sebagai qowwam.”
Di akhir diskusi, disusun rekomendasi yang disepakati bersama untuk menjadi acuan langkah konkrit agar ketahanan keluarga dapat terwujud. Diantara poin-poin tersebut, terkait regulasi, layanan konseling, gerakan edukasi keayahan, dan Mendorong pembentukan kerangka ketahanan keluarga regional Asia Pasifik untuk perlindungan hak perempuan dan penguatan ekosistem pendukung. [Mh/PBKM]



