SEBELUM berita bisa dibaca dalam hitungan detik melalui ponsel, radio pernah menjadi salah satu jembatan utama yang menghubungkan pemerintah dengan rakyat. Dari sebuah perangkat sederhana, kabar tentang keadaan negeri, perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga informasi penting dapat menjangkau masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
Setiap 11 September, Indonesia memperingati Hari Radio Nasional. Tanggal tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945, hanya beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 2026 ini, peringatan tersebut kembali menjadi momentum untuk melihat bagaimana radio pernah memainkan peran besar dalam perjalanan bangsa.
Baca Juga: BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan Bahaya Tsunami di Pesisir Banten
Hari Radio Nasional 2026 Mengingat Kembali Suara yang Menjaga Indonesia
Berawal dari Situasi yang Serba Tidak Pasti
Kisah lahirnya RRI bermula setelah siaran radio milik pemerintah pendudukan Jepang, Hoso Kyoku, berhenti pada 19 Agustus 1945. Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan menghadapi situasi penuh ketidakpastian. Informasi mengenai kondisi politik dan keamanan masih terbatas, sementara kabar dari luar negeri bahkan menyebut adanya kemungkinan Belanda kembali berkuasa.
Para tokoh yang sebelumnya bekerja di dunia radio melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Radio dianggap sebagai sarana komunikasi yang cepat dan relatif dapat diandalkan, terutama ketika kondisi keamanan belum stabil. Pemerintah membutuhkan media untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat di berbagai wilayah.
Delapan Tokoh dan Lahirnya RRI
Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delapan perwakilan bekas Hoso Kyoku bertemu dengan pemerintah Indonesia di bekas Gedung Raad Van Indje, Pejambon, Jakarta. Mereka adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi.
Pertemuan tersebut menjadi titik penting dalam sejarah penyiaran Indonesia. Abdulrahman Saleh yang memimpin delegasi menekankan perlunya radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Dari pertemuan itu kemudian lahir Radio Republik Indonesia dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpin umum.
RRI pada awal berdirinya memiliki sejumlah studio di berbagai kota, antara lain Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Kehadiran jaringan tersebut membuat radio memiliki jangkauan penting dalam menyebarkan informasi di masa awal kemerdekaan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Radio sebagai Suara Perjuangan
Pada masa revolusi, radio tidak sekadar menyampaikan berita. RRI menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Informasi mengenai perjuangan bangsa disiarkan untuk membangun semangat masyarakat sekaligus menjadi sarana komunikasi di tengah situasi yang serba terbatas.
Peran tersebut membuat radio memiliki nilai strategis. Ketika berbagai jalur komunikasi belum berkembang seperti sekarang, suara dari radio menjadi salah satu sumber informasi yang dinanti masyarakat. RRI juga berperan dalam memperluas informasi mengenai kemerdekaan Indonesia.
Kini zaman telah berubah. Masyarakat dapat memperoleh berita melalui televisi, situs berita, media sosial, podcast hingga berbagai platform digital. Namun, radio tidak serta-merta kehilangan tempatnya.
Hari Radio Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa teknologi boleh berganti, tetapi kebutuhan manusia terhadap informasi yang terpercaya tetap sama. Dari suara yang dahulu mengudara di tengah suasana revolusi, radio telah menjadi bagian dari perjalanan panjang media Indonesia.
Lebih dari sekadar mengenang sebuah tanggal, Hari Radio Nasional mengajak kita melihat kembali bagaimana sebuah medium sederhana pernah ikut menjaga komunikasi bangsa ketika Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya. [DW]



