RASA gurih memang sulit ditolak. Sepiring mi instan saat lapar malam hari, keripik untuk teman bekerja, atau sosis yang tinggal digoreng sering menjadi pilihan karena praktis dan rasanya kuat. Masalahnya, makanan yang terasa gurih belum tentu hanya mengandung sedikit garam. Di balik rasa tersebut bisa terdapat natrium dalam jumlah cukup tinggi yang jika dikonsumsi berlebihan dapat mengganggu kesehatan.
Natrium sebenarnya merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh. Zat ini berperan dalam menjaga keseimbangan cairan, membantu kerja saraf, serta mendukung fungsi otot. Namun, tubuh hanya membutuhkan dalam jumlah tertentu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 miligram natrium per hari atau setara dengan kurang dari 5 gram garam. Asupan natrium berlebihan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.
Baca Juga: BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan Bahaya Tsunami di Pesisir Banten
5 Makanan Tinggi Natrium yang Tidak Boleh Sering Dikonsumsi
Berikut beberapa makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi.
1. Mi Instan
Mi instan menjadi salah satu makanan praktis yang perlu diperhatikan kandungan natriumnya. Bukan hanya mi, bumbu, saus, dan minyak bumbu yang menyertainya juga dapat menyumbang natrium dalam jumlah cukup besar.
WHO memasukkan mi instan sebagai salah satu makanan yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi sumber asupan garam yang tinggi. Di Indonesia sendiri, mi instan termasuk makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Jika tetap ingin menikmatinya, penggunaan sebagian bumbu dapat menjadi salah satu cara mengurangi asupan natrium. Menambahkan sayuran dan sumber protein seperti telur juga dapat membuat hidangan lebih seimbang.
2. Daging Olahan
Sosis, ham, kornet, bacon, dan berbagai jenis daging olahan lainnya biasanya menggunakan garam dalam proses pengolahan dan pengawetan. Karena itu, makanan tersebut dapat mengandung natrium cukup tinggi.
WHO menyebut daging olahan sebagai salah satu kelompok makanan yang sering menjadi sumber garam. Konsumsinya sebaiknya dibatasi dan lebih sering digantikan dengan daging atau ikan segar yang diolah sendiri.
3. Keripik dan Camilan Gurih
Keripik kentang, kerupuk, snack kemasan, popcorn asin, hingga kacang berbumbu mungkin terlihat seperti camilan ringan. Namun, jika dikonsumsi berkali-kali dalam sehari, jumlah natrium yang masuk ke tubuh bisa bertambah tanpa terasa.
WHO juga memasukkan makanan ringan asin sebagai kelompok pangan yang perlu dibatasi karena umumnya tinggi garam.
4. Makanan Kaleng
Ikan kaleng, daging kaleng, sup instan, hingga berbagai makanan yang diawetkan dapat mengandung natrium cukup tinggi. Garam dan bahan tambahan tertentu digunakan untuk membantu mempertahankan rasa maupun daya simpan produk.
Sebelum membeli, biasakan melihat tabel informasi nilai gizi pada kemasan. Jangan hanya memperhatikan ukuran porsinya karena satu kemasan belum tentu sama dengan satu porsi.
5. Saus dan Bumbu Siap Pakai
Kecap asin, saus ikan, saus tiram, kaldu bubuk, dan berbagai bumbu instan sering digunakan sedikit demi sedikit ketika memasak. Justru karena penggunaannya terasa sepele, jumlah natrium yang masuk terkadang tidak disadari.
WHO menyebut kecap dan saus ikan sebagai contoh bumbu yang dapat menyumbang natrium cukup besar dalam pola makan.
Mengurangi natrium bukan berarti harus menghilangkan semua makanan gurih dari menu. Langkah sederhananya adalah lebih sering memilih bahan segar, mengurangi makanan ultra-proses, membaca label kemasan, serta menggunakan rempah seperti bawang putih, jahe, kunyit, lada, atau jeruk nipis untuk memperkaya rasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya garam yang ditambahkan dari tempat garam di meja makan. Natrium juga bisa tersembunyi di dalam makanan yang setiap hari terlihat biasa saja. [DW]



