ASY-SYIFA Binti Abdullah dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan memiliki kemampuan membaca serta menulis. Keahlian tersebut sudah dimilikinya sebelum datangnya Islam. Setelah memeluk Islam, kemampuan itu tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Ia mengajarkannya kepada perempuan Muslimah, termasuk Hafshah binti Umar bin Khattab yang kemudian menjadi salah satu istri Rasulullah SAW. Karena perannya tersebut, Asy-Syifa kerap disebut sebagai salah satu guru perempuan pada masa awal Islam.
Baca Juga: Asma Binti Salamah Perempuan Tangguh yang Menyertai Hijrah ke Negeri Habasyah
Asy Syifa Binti Abdullah Perempuan Cerdas yang Mengajarkan Ilmu kepada Muslimah
Perempuan yang Memiliki Kemampuan Istimewa
Pada masa ketika kemampuan baca tulis belum menjadi hal yang umum, keterampilan Asy-Syifa tentu memiliki nilai tersendiri. Ia tidak hanya dikenal sebagai seseorang yang mampu membaca dan menulis, tetapi juga bersedia membagikan pengetahuannya kepada orang lain.
Salah satu muridnya yang paling dikenal adalah Hafshah binti Umar. Hubungan keduanya bahkan tercatat dalam hadis. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW datang ketika Asy-Syifa sedang bersama Hafshah. Beliau kemudian meminta Asy-Syifa mengajarkan kepada Hafshah ruqyah sebagaimana sebelumnya ia mengajarkan tulisan kepadanya. Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan juga diriwayatkan melalui jalur lain.
Menguasai Ruqyah Sejak Masa Jahiliyah
Selain kemampuan membaca dan menulis, Asy-Syifa juga dikenal memiliki pengetahuan mengenai ruqyah. Sebelum masuk Islam, ia telah melakukan ruqyah dan kemudian menyampaikan keahliannya tersebut kepada Rasulullah SAW.
Dalam riwayat yang dikutip para ulama, Asy-Syifa meminta izin untuk memperlihatkan ruqyah yang dahulu biasa digunakannya. Setelah diperlihatkan, Rasulullah SAW meminta agar ia mengajarkannya kepada Hafshah. Hadis ini menjadi salah satu bukti bahwa Asy-Syifa memiliki pengetahuan yang diakui dan dimanfaatkan dalam lingkungan kaum Muslimin.
Penting untuk memahami riwayat tersebut dengan tepat. Istilah ruqyah dalam sumber tersebut tidak boleh langsung disamakan dengan berbagai praktik pengobatan yang beredar sekarang. Para ulama memberikan penjelasan mengenai maksud ruqyah an-namlah dan konteks penggunaannya. Karena itu, kisah Asy-Syifa lebih tepat dilihat sebagai bagian dari sejarah pengobatan dan pengetahuan masyarakat pada masa Rasulullah SAW.
Mendapat Kepercayaan di Masa Umar bin Khattab
Peran Asy-Syifa tidak berhenti setelah Rasulullah SAW wafat. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab RA, ia tetap dikenal sebagai perempuan yang memiliki pemikiran dan pandangan yang dihargai.
Sumber biografi klasik menyebutkan bahwa Umar menghormati Asy-Syifa dan memperhatikan pendapatnya. Bahkan, ia pernah memberikan kepercayaan kepadanya dalam urusan pasar. Keterangan ini memperlihatkan bahwa perempuan pada masa awal Islam juga dapat memiliki peran dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika mempunyai kemampuan dan integritas yang diakui.
Warisan Ilmu yang Terus Berlanjut
Asy-Syifa juga meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab. Pengetahuannya kemudian diteruskan oleh orang-orang setelahnya, termasuk putranya, Sulaiman bin Abi Hatsmah, serta generasi berikutnya.
Kisah Asy-Syifa memberikan gambaran bahwa belajar dan mengajarkan ilmu mempunyai tempat penting dalam kehidupan kaum Muslimin sejak masa awal. Ia tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga mengambil bagian dalam menyebarkannya.
Dari sosok Asy-Syifa, kita dapat melihat bahwa kontribusi seseorang tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat. Mengajarkan kemampuan membaca, menulis, dan pengetahuan yang bermanfaat kepada orang lain juga dapat menjadi amal yang panjang manfaatnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sosok Asy-Syifa binti Abdullah akhirnya menjadi pengingat bahwa perempuan Muslim sejak generasi pertama Islam telah mengambil peran dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat. Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam pembahasan sejarah populer, tetapi catatan tentang kecerdasan, kemampuan mengajar, dan kepercayaannya di tengah masyarakat membuat kisahnya tetap layak dikenang. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.




