DALAM menghadapi masalah, seseorang bisa berada pada kondisi ketika merasa sudah tidak memiliki jalan keluar. Beban hidup terasa semakin berat, usaha yang dilakukan seolah tidak membuahkan hasil, sementara harapan perlahan mulai menghilang. Pada titik seperti ini, ada dua sikap yang sekilas terlihat hampir sama, yaitu menyerah dan berserah diri kepada Allah. Padahal, keduanya memiliki makna yang sangat berbeda.
Seseorang yang menyerah biasanya merasa bahwa masalahnya sudah terlalu besar untuk diselesaikan. Ia mulai mengeluh, merasa tidak ada lagi jalan keluar, bahkan bisa sampai berputus asa dari pertolongan Allah. Ketika pikiran dipenuhi keyakinan bahwa semuanya sudah berakhir, semangat untuk berusaha pun ikut hilang.
Padahal, Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Dalam QS. Az-Zumar ayat 53, Allah mengingatkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya dan menegaskan keluasan ampunan serta kasih sayang-Nya.
Baca Juga: Jejak Jamilah Binti Tsabit, Sahabiyah yang Namanya Diabadikan Rasulullah
Jangan Menyerah dan Belajarlah Berserah Adalah Dua Sikap yang Ternyata Berbeda
Karena itu, seberat apa pun persoalan yang sedang dihadapi, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar. Apa yang terlihat buntu dari sudut pandang manusia belum tentu demikian dalam ketetapan Allah.
Sementara itu, berserah diri bukan berarti berhenti berusaha. Berserah diri atau tawakal justru dilakukan setelah seseorang berikhtiar semaksimal mungkin. Ia mengerjakan bagian yang mampu dilakukan, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Gambaran tersebut dapat ditemukan dalam QS. Ali Imran ayat 122. Ayat ini mengajarkan agar orang-orang beriman bertawakal kepada Allah ketika menghadapi keadaan yang membuat gentar.
Dengan demikian, orang yang berserah bukanlah orang yang pasif. Ia tetap bergerak, mencari solusi, memperbaiki kesalahan, meminta bantuan ketika diperlukan, sekaligus menjaga keyakinan bahwa hasil akhirnya berada dalam kuasa Allah.
Perbedaan keduanya juga terlihat dari cara seseorang memandang kegagalan. Orang yang menyerah akan melihat kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, orang yang berserah dapat menjadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri dan mencari jalan lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Berserah juga membuat hati lebih tenang. Bukan karena semua persoalan langsung selesai, tetapi karena seseorang menyadari bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi kehidupan. Ada Allah yang mengetahui apa yang tidak diketahui manusia dan memahami apa yang bahkan sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Maka, ketika sedang menghadapi ujian, jangan katakan, “Tidak ada jalan lagi.” Ubahlah menjadi, “Aku sudah berusaha, sekarang aku serahkan hasilnya kepada Allah.”
Teruslah melangkah selama masih ada kemampuan untuk berusaha. Jika hasilnya belum sesuai harapan, tetaplah percaya bahwa Allah mengetahui sesuatu yang mungkin belum mampu kita pahami hari ini. Menyerah membuat langkah terhenti, sedangkan berserah membuat hati tetap kuat untuk melangkah. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Muhammad Assad




