UMAR bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah SAW yang memiliki keberanian luar biasa. Ketegasannya dalam menegakkan keadilan membuat banyak orang segan kepadanya. Sebagai khalifah kedua, ia memimpin wilayah Islam yang sangat luas dan berhasil membawa banyak perubahan besar bagi umat. Namun, di balik ketegasan itu, Umar adalah sosok yang sangat lembut hatinya ketika mengingat Allah dan kehidupan akhirat.
Salah satu kisah yang menggambarkan kerendahan hati Umar diceritakan dalam buku Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah karya Yanuar Arifin (Penerbit Noktah, 2020). Kisah ini menunjukkan betapa dalam rasa takut Umar kepada hisab di hadapan Allah, meskipun beliau termasuk sahabat yang telah dijamin kemuliaannya.
Suatu hari, Umar bin Khattab melihat seekor burung kecil yang dalam beberapa riwayat disebut sebagai burung ushfur. Burung itu terbang bebas dari satu dahan ke dahan lainnya, mencari makan, lalu kembali ke sarangnya tanpa memiliki beban sebagaimana manusia.
Baca Juga: Ketika Umar Ingin Mengalahkan Abu Bakar: Kisah Sedekah yang Menjadi Pelajaran Sepanjang Zaman
Renungan Mendalam Umar bin Khattab tentang Hari Akhir
Pemandangan sederhana itu justru membuat Umar termenung. Ia memandang burung kecil tersebut dengan penuh renungan. Kemudian dari lisannya keluar kalimat yang sangat menyentuh.
Ia berharap seandainya dirinya hanyalah seekor burung kecil yang hidup, mencari makan, lalu mati tanpa harus menghadapi beratnya perhitungan amal pada Hari Kiamat.
Ucapan itu bukan menunjukkan bahwa Umar tidak bersyukur menjadi manusia. Sebaliknya, kalimat tersebut lahir dari rasa takut yang begitu besar terhadap tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Umar memahami bahwa setiap nikmat, amanah, kekuasaan, dan keputusan yang pernah diambil selama hidup akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebagai seorang khalifah, Umar memikul amanah yang sangat besar. Ia sering mengingatkan dirinya sendiri bahwa seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas manusia, tetapi juga terhadap makhluk lain yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Bahkan terdapat riwayat terkenal yang menggambarkan kekhawatiran Umar apabila seekor keledai tergelincir di Irak karena jalan yang rusak. Ia takut Allah akan menanyakan kelalaiannya sebagai pemimpin.
Perasaan seperti inilah yang membuat Umar tidak pernah terlena oleh kedudukan. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Ia tidak pernah menganggap banyaknya amal sebagai jaminan keselamatan.
Kisah burung ushfur mengajarkan bahwa seorang mukmin seharusnya memiliki rasa takut (khauf) yang seimbang dengan harapan (raja’) kepada Allah. Rasa takut tersebut bukan membuat seseorang putus asa, tetapi mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menghindari perbuatan yang dimurkai Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Di zaman sekarang, manusia sering merasa bangga dengan pencapaian dunia. Jabatan, harta, popularitas, bahkan pengaruh di media sosial terkadang membuat seseorang lupa bahwa semua itu hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Umar justru memberikan teladan yang berbeda. Semakin besar amanah yang diemban, semakin rendah hati dirinya.
Renungan Umar saat melihat burung kecil juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Burung ushfur hidup sesuai fitrahnya sebagai makhluk Allah, sedangkan manusia diberikan akal, ilmu, dan pilihan. Karena itulah manusia memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding makhluk lainnya.
Kisah ini mengajak kita untuk lebih sering melakukan muhasabah. Jangan sampai kesibukan mengejar urusan dunia membuat kita lupa mempersiapkan bekal menuju akhirat. Jabatan, harta, dan segala kebanggaan dunia akan berakhir, tetapi amal saleh akan tetap menemani hingga hari perhitungan. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah. Yanuar Arifin. Penerbit Noktah,: 2020.





