PADA zaman Rasulullah, ada satu peristiwa yang selalu dikenang karena mengandung pelajaran tentang keikhlasan dan kecintaan kepada Allah. Kisah tersebut adalah perlombaan bersedekah antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bukan perlombaan untuk mencari pujian manusia, melainkan berlomba dalam menginfakkan harta di jalan Allah.
Diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW mengajak para sahabat untuk memberikan sedekah demi kepentingan kaum Muslimin. Ajakan itu datang pada saat umat Islam membutuhkan dukungan materi untuk menghadapi berbagai keperluan perjuangan dakwah.
Mendengar seruan tersebut, Umar bin Khattab melihat sebuah kesempatan yang jarang datang. Ia memiliki harta yang cukup banyak saat itu. Di dalam hatinya muncul keinginan untuk memberikan sedekah terbaik. Bahkan, Umar sempat berpikir bahwa hari itu mungkin menjadi kesempatan baginya untuk mengungguli Abu Bakar dalam berbuat kebaikan.
Baca Juga: Kisah Mengharukan Maimunah binti Sa’ad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Ilmu dan Pelayanan Umat
Ketika Umar Ingin Mengalahkan Abu Bakar: Kisah Sedekah yang Menjadi Pelajaran Sepanjang Zaman
Keinginan Umar bukan didasari rasa iri atau persaingan yang buruk. Justru sebaliknya, semangat itu lahir dari motivasi untuk semakin dekat kepada Allah. Ia ingin menjadi orang yang paling banyak berkorban demi agama.
Dengan penuh keyakinan, Umar pulang ke rumah lalu mengambil setengah dari seluruh hartanya. Baginya, jumlah itu sudah sangat besar. Ia tetap menyisakan separuh lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setelah itu, ia membawa hartanya kepada Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada Umar, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Umar menjawab bahwa ia meninggalkan setengah dari hartanya bagi keluarga yang berada di rumah. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa Umar tetap memperhatikan tanggung jawab terhadap keluarganya meskipun sangat bersemangat bersedekah.
Tak lama kemudian, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membawa hartanya. Ketika Rasulullah SAW melihat apa yang dibawanya, beliau kembali bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Jawaban Abu Bakar sangat sederhana, tetapi begitu dalam maknanya.
“Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Ucapan itu menunjukkan bahwa Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah. Ia memiliki keyakinan penuh bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya. Kepercayaan kepada janji Allah menjadi kekuatan terbesar yang dimiliki Abu Bakar.
Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab pun mengakui keutamaan sahabatnya itu. Ia berkata bahwa sejak hari itu dirinya menyadari tidak akan pernah mampu mengalahkan Abu Bakar dalam berbagai bentuk kebaikan.
Pengakuan Umar bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, hal itu menunjukkan kebesaran hati seorang mukmin. Ia mampu mengakui kelebihan saudaranya tanpa dipenuhi rasa dengki. Inilah salah satu akhlak mulia yang dimiliki para sahabat Rasulullah SAW.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa ukuran sedekah bukan sekadar besar kecilnya nominal. Yang paling penting adalah keikhlasan, keyakinan kepada Allah, dan kesiapan hati untuk mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi. Umar memberikan setengah hartanya dengan penuh keimanan, sedangkan Abu Bakar memberikan seluruh hartanya dengan tingkat tawakal yang luar biasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Bagi umat Islam saat ini, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa berlomba dalam kebaikan adalah anjuran agama. Namun, perlombaan itu bukan untuk mencari pengakuan manusia, melainkan untuk memperoleh ridha Allah SWT. Jika hati dipenuhi keikhlasan, maka setiap sedekah, sekecil apa pun, akan memiliki nilai yang besar di sisi-Nya. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah. Yanuar Arifin. Penerbit Noktah,: 2020.





