• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Rabu, 15 Juli, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Unggulan

Kembali ke Zakopane Setelah 16 Tahun: Ketika Alam, Budaya, dan Teknologi Menjaga Pesona Sebuah Kota

15/07/2026
in Unggulan, Wisata
Kembali ke Zakopane Setelah 16 Tahun: Ketika Alam, Budaya, dan Teknologi Menjaga Pesona Sebuah Kota

foto: Sri Yusriani

66
SHARES
508
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

KEMBALI ke Zakopane Setelah 16 Tahun: Ketika Alam, Budaya, dan Teknologi Menjaga Pesona Sebuah Kota.  Catatan perjalanan tentang kerinduan, pembelajaran, dan inspirasi pengembangan pariwisata berbasis komunitas, ditulis oleh: Sri Yusriani Syamsuri, 14 Juli 2026.

Bismillah walhamdulillah, ada perjalanan yang dimulai karena rasa ingin tahu. Ada pula perjalanan yang lahir dari kerinduan~ kerinduan kepada sebuah negeri yang pernah menjadi bagian penting dari proses kehidupan, kepada jalan-jalan lama yang mungkin telah berubah, dan kepada kenangan yang diam-diam tetap tinggal tersimpan meskipun waktu terus berjalan. Kunjungan kami ke Polandia kali ini membawa perasaan semacam itu.

Pada 2009 hingga Januari 2013, saya sekeluarga pernah tinggal di kawasan Kraków. Kota itu bukan sekadar tempat singgah dalam perjalanan internasional, melainkan ruang tempat kehidupan rumah tangga pernah bertumbuh: belajar memahami bahasa dan budaya baru, membangun persahabatan lintas bangsa, mengenal ritme kehidupan masyarakat Eropa Tengah, serta menyimpan berbagai pengalaman yang kelak ikut membentuk cara saya memandang pendidikan, komunitas, dan keberagaman. Si sulung Abang Azzam dan Bang Sayyif menjalani lebih dari tujuh semester kehidupan di Kraków. Ketika kami pindah dari Kuala Lumpur, Malaysia, Abang Azzam mulai mengikuti zerówka atau kelas persiapan sekolah, sedangkan Bang Sayyif baru berusia tujuh bulan. Beberapa tahun kemudian, ia mulai mengikuti pendidikan prasekolah berbahasa Polandia. Adik mereka, Bang Zuhud~ atau Ismail, lahir di sebuah rumah sakit di kawasan Nowa Huta, Kraków, pada Juni 2011.

Karena itulah, kembali ke Polandia setelah bertahun-tahun terasa seperti membuka kembali sebuah buku lama. Sampulnya mungkin telah berubah, beberapa halamannya tampak lebih modern, tetapi aroma kenangannya masih tetap sama. Saya pernah menulis dalam sebuah artikel, “….Ada sepotong bagian dari jiwa kami di sini.” Bahkan bagi saya dan keluarga yang telah mencicipi singgah menjalani kehidupan di berbagai negara (dengan benar-benar living abroad, not only stay for a few days…), Polandia menyimpan nilai emosional yang bahkan terasa lebih kuat daripada kunjungan singkat ke berbagai ikon wisata dunia, termasuk Menara Eiffel dan kawasan sekitarnya di Paris, Prancis. Poland di timur lebih memiliki values dibandingkan beberapa Kawasan popular Eropa Barat, High-quality services and safety-nya masyarakat Polandia, juga mengingatkan kami pada standar pelayanan di Denmark, negara Skandinavia tempat kami bermukim saat ini.

baca juga: Kisah Mualaf Denmark yang Merasa Kesepian saat Ramadan

Dari Billund ke Kraków, kemudian menuju Zakopane, kurang lebih lima belas jam perjalanan dengan mengendarai mobil, tiga atau empat kali perlu mengisi energy (Volkwagen charging), membeli makanan ringan, beristirahat, dan menggunakan fasilitas umum.

Menjelang pukul 22.55, perjalanan panjang itu akhirnya membawa kami kembali ke Zakopane~ sebuah kota pegunungan dengan letak tertinggi di Polandia dan tempat yang sejak dahulu memiliki ruang tersendiri dalam ingatan kami.

Zakopane yang Pernah Kami Kenal

Saya masih mengingat kunjungan ke Zakopane pada Juni 2010 dan kembali lagi pada Desember tahun yang sama. Dua musim menghadirkan dua wajah yang berbeda. Pada musim panas, hamparan hijau, rumah-rumah kayu, udara segar, dan lekuk Pegunungan Tatra menghadirkan ketenangan yang luas. Ketika musim dingin tiba, Zakopane berubah menjadi kawasan wisata salju dengan suasana ski, pakaian musim dingin, cahaya lampu amat menawan, serta keramaian wisatawan yang ingin menikmati nuansa khas pegunungan Polandia.

Zakopane memang hidup hampir sepanjang musim. Musim dingin menghadirkan wisata ski dan salju, sedangkan musim panas mengundang masyarakat untuk berjalan kaki, mendaki, bersepeda, menikmati lembah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga di ruang terbuka.

Kali ini, kami kembali pada musim panas.

Dari vila tempat kami menginap, terlihat rumah-rumah yang tersebar di lereng, padang rumput yang membentang, pepohonan hijau, dan pegunungan yang berdiri tenang di bawah awan. Pemandangannya begitu segar sehingga mata seolah enggan berpaling. Seperti biasa, saya dan suami mengajarkan anak-anak merasakan menginjak tanah dan bebatuan, memegang dedaunan, berdzikir kala merasakan hangatnya mentari di balcony, atau saat sepoi angin menyentuh kulit kita, serta memegang dan mengenali bunga-bunga di taman, MashaAllah tabārakallāh.… Waktu seolah terhenti sejenak, sebab musim-musim sibuk keseharian di era digital seringkali menumpulkan kepekaan dan kemampuan kita untuk mengapresiasi alam sekitar.

Ada sedikit nuansa yang mengingatkan saya kepada Lausanne, Swiss~ bukan karena kedua tempat itu sepenuhnya serupa, melainkan karena sama-sama memiliki pertemuan khas antara kontur perbukitan, permukiman yang tertata, udara yang menenangkan, serta panorama alam yang membuat sebuah kota terasa lebih manusiawi. Serta sama-sama menawarkan ‘renungan sunyi’ suasana alam dengan service yang super jempolan. Jadi para travellers yang biasanya sekeluarga besar seperti kami bisa merasakan sepenuhnya hadir berlibur, dengan semua kebutuhan tersedia, plus dengan kondisi privacy terjaga.
Namun, Zakopane tetap mempunyai wataknya sendiri.

Ia tidak kehilangan kehangatan lokalnya. Di tengah pertumbuhan pariwisata, rumah-rumah bergaya pegunungan, budaya masyarakat Górale, tradisi kayu, ragam cerita rakyat, dan hubungan masyarakat dengan alam masih terasa kuat. Kawasannya memang semakin berkembang, tetapi pesonanya tidak sepenuhnya ditelan oleh komersialisasi.

Mencari Vila di Tengah Tingginya Minat Wisatawan

Mendapatkan akomodasi yang sesuai di Zakopane tidak mudah. Vila yang kami pilih telah dipesan sekitar dua bulan sebelumnya. Banyak tempat menginap sudah tereservasi jauh sebelum musim liburan dimulai.
Pengalaman tersebut bukan sekadar persoalan jadwal perjalanan. Ia juga menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kawasan Zakopane dan Pegunungan Tatra.

Data Tatrzański Park Narodowy mencatat statistik kunjungan taman nasional secara berkala. Pada 2024, jumlah kunjungan ke kawasan Tatra mencapai sekitar 5,091 juta kunjungan yang menjadi rekor historis dan melampaui rekor sebelumnya pada 2021. Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan sekaligus peluang yang muncul dari popularitas kawasan pegunungan ini.

Indikator lain juga memperlihatkan pertumbuhan wisatawan internasional. Berdasarkan kompilasi Poland.gg atas data resmi GUS, sekitar 210.502 wisatawan asing tercatat menggunakan akomodasi di Zakopane pada 2024 dan menghasilkan 520.444 malam menginap. Pada 2025, jumlah tersebut meningkat menjadi 239.753 wisatawan asing dengan 605.740 malam menginap. Pada 2025, jumlah wisatawan asing tercatat meningkat menjadi sekitar 239.753, dengan lebih dari 605.000 malam menginap. Angka tersebut hanya mencakup wisatawan asing dalam akomodasi yang tercatat~ bukan seluruh wisatawan domestik, pengunjung harian, atau orang yang datang langsung ke taman nasional, tetapi arahnya tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Publikasi terbaru Kantor Statistik Kraków juga secara khusus memetakan perkembangan akomodasi dan pariwisata di Provinsi Małopolskie sepanjang 2024 dan 2025, memperlihatkan bahwa kawasan ini tetap menjadi salah satu pusat pariwisata terpenting di Polandia. Daya tarik kawasan ini telah bertahan selama beberapa dekade, melewati berbagai keterbatasan pada masa pandemi, kemudian kembali menguat melalui transformasi digital dan meningkatnya mobilitas wisatawan. (Penjelasan Publikasi resmi Kantor Statistik Kraków tentang pariwisata Małopolskie pada 2024-2025 memang diterbitkan pada 15 Juni 2026).

Tak mengherankan bila memesan vila di Zakopane membutuhkan perencanaan lebih awal. Alam yang indah kini bertemu dengan mobilitas wisatawan yang semakin tinggi, sistem reservasi digital, dan promosi yang menjangkau pasar lintas negara.

Menemukan Program yang Membuat Kota Berbicara

Ketika tiba di Zakopane, kami tidak hanya menikmati panorama. Sebagai seorang peneliti dan pembelajar, saya selalu tertarik mengetahui apa yang sedang dilakukan masyarakat dan pemerintah lokal di tempat yang saya kunjungi, selain tentu ‘urusan jajanan khas di lokasi’. (Berbeda sedikit dengan suamiku, ia biasanya memeriksa peraturan perpajakan, peta details perjalanan dan kondisi cuaca lokasi tersebut. Kompak kan?!)

Kami pun mencoba mencari informasi terbaru tentang aktivitas kota. Dari pencarian tersebut, saya menemukan program FREE CITY TOUR Zakopane 2026. Program ini merupakan rangkaian kegiatan jalan kaki gratis dan tur tematik yang diselenggarakan oleh Kota Zakopane bersama Muzeum Tatrzańskie, pemandu PTTK, Zakopane Cultural Centre, serta komunitas lokal.

Programnya tidak sekadar membawa orang berjalan mengelilingi kota. Peserta diajak mengenali Zakopane melalui sejarah, sastra, etnografi, tradisi masyarakat pegunungan, tokoh-tokoh lokal, rumah bersejarah, gereja kayu, lembah, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tur dilaksanakan dalam kelompok kecil agar peserta dapat berinteraksi langsung dengan pemandu. Seluruh kegiatan tersedia secara gratis, meskipun pendaftaran terlebih dahulu diperlukan karena jumlah peserta dibatasi. Jumlah peserta dibatasi hingga 20 orang untuk sebagian besar tur dan maksimal 15 orang untuk kunjungan khusus ke Museum Kornel Makuszyński.

Salah satu program yang sangat menarik ialah “Zakopane Prawdziwych Górali” atau kurang lebih berarti Zakopane dari Masyarakat Pegunungan Sejati. Peserta tidak hanya diperlihatkan objek wisata, tetapi diajak memahami bahasa lokal, tradisi, sejarah keluarga, kehidupan penggembala, arsitektur kayu, dan perubahan Zakopane dari masa ke masa melalui foto-foto arsip.

Inilah bentuk pariwisata yang membuat sebuah tempat tidak sekadar terlihat, tetapi juga dipahami. Cara para ‘tetua adat’ menjaga history dan mengikat para pemuda untuk tidak melupakan kearifan lokal. Sebuah kota tidak hanya terdiri atas jalan, Gedung megah, toko, café dan restoran. Kota juga dibangun oleh ingatan, suara masyarakat, kisah-kisah keluarga, nilai, serta hubungan manusia dengan ruang tempat mereka hidup.

Kenangan tentang Arabs Day dan Family Day

Program berbasis komunitas seperti ini mengingatkan saya kepada suasana Zakopane sekitar 2010.
Pada masa itu, kami pernah diundang menghadiri kegiatan Arabs Day dan Family Day di pusat kota Zakopane. Acara tersebut menjadi ruang perjumpaan antarmasyarakat. Orang-orang dapat mengenal pakaian Muslim, busana Indonesia, identitas masyarakat Arab, makanan, kebiasaan keluarga, dan keragaman budaya yang mungkin sebelumnya hanya mereka lihat dari kejauhan.[ind]

Tags: Budayadan Teknologi Menjaga Pesona Sebuah KotaKembali ke Zakopane Setelah 16 Tahun: Ketika Alam
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Apel Abu Hanifah

Next Post

Tape Singkong dapat Mengatasi Jerawat

Next Post
Tape Singkong dapat Mengatasi Jerawat

Tape Singkong dapat Mengatasi Jerawat

Tidak Ada Jenderal di Depan Istri

Kiat Langgeng dalam Pernikahan Jarak Jauh

Cara Memilih Buah Durian yang Tepat dan Bagus

Cara Memilih Buah Durian yang Tepat dan Bagus

  • 7 Tempat Wisata Kuliner Viral di Bandung yang Wajib Dicoba Saat Liburan

    7 Tempat Wisata Kuliner Viral di Bandung yang Wajib Dicoba Saat Liburan

    241 shares
    Share 96 Tweet 60
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8881 shares
    Share 3552 Tweet 2220
  • Rumah Zakat Latih 42 Relawan melalui Volunteer Basic Training 2026 di Bogor

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Keutamaan Doa Rodhitu Billahi Robba

    3470 shares
    Share 1388 Tweet 868
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4000 shares
    Share 1600 Tweet 1000
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11582 shares
    Share 4633 Tweet 2896
  • UBN Hadiri Shalat Gaib Mantan Emir Qatar di Istiqlal, Kenang Warisan Kepemimpinan Syekh Hamad

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Bacaan Doa saat Duduk Tasyahud Akhir Lengkap Beserta Latin dan Terjemahannya

    2273 shares
    Share 909 Tweet 568
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1090 shares
    Share 436 Tweet 273
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2281 shares
    Share 912 Tweet 570
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga